Pagi itu, langit Kota Banjar masih menyisakan mendung kelabu. Aku duduk di tepian siring Sungai Martapura, menatap air sungai yang keruh dan berarus deras. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarku—ada yang jogging, ada yang berjualan pentol—tapi aku merasa seperti berada di dunia yang berbeda. Dunia yang sunyi dan mencekam.
Bobi sudah dibawa orang tuanya pulang ke Rantau subuh tadi. Setelah kejadian semalam, mentalnya terguncang hebat. Dia menolak bicara, hanya melotot menatap sudut ruangan. Orang tuanya memutuskan untuk merawatnya di kampung halaman dan memanggil "orang pintar" di sana.
Sementara Nada... kondisinya stagnan. Dia seperti mayat hidup di kamar kosnya, hanya bisa berbaring sambil meracau tak jelas.
Dan aku?
Aku sehat walafiat. Tidak ada demam, tidak ada bayangan hitam, tidak ada bisikan gaib.
Justru itu yang membuatku takut. Kenapa hanya aku? Apakah giliranku belum tiba? Atau lebih parah lagi... apakah aku penyebab semua ini?
"Rin..."
Suara lembut itu membuyarkan lamunanku. Rayyan sudah berdiri di sampingku, membawa dua bungkus nasi kuning dan dua gelas teh hangat. Wajahnya terlihat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas, tapi senyumnya tetap menenangkan.
Dia duduk di bangku beton di sebelahku, lalu menyodorkan satu bungkus nasi.
"Makan dulu, Rin. Dari semalam ikam belum kemasukan nasi. Jangan sampai ikam umpat sakit jua," ujarnya perhatian.
(Makan dulu, Rin. Dari semalam kamu belum kemasukan nasi. Jangan sampai kamu ikut sakit juga.)
Aku menggeleng lemah, perutku terasa mual memikirkan makanan. "Aku kada nafsu, Yan. Rasanya berdosa mun aku makan nyaman, sedangkan Nada sama Bobi menderita."
(Aku tidak nafsu, Yan. Rasanya berdosa kalau aku makan enak, sedangkan Nada sama Bobi menderita.)
Rayyan menghela napas, meletakkan bungkusan itu di pangkuannya. Ia menatap sungai, pandangannya menerawang jauh.
"Justru itu ikam harus makan," kata Rayyan pelan tapi tegas. "Amun ikam sakit, siapa yang handak menulungi buhan nya? Aku? Aku ni laki-laki, Rin. Ada batasan amun handak mengurusi Nada. Ikam sahabat terdekatnya. Ikam harapan Nada wahini."