Sihir

Arham FR
Chapter #5

Bab 5

Sore itu, suasana di kos Nada terasa lebih mencekam dari biasanya. Matahari yang mulai condong ke barat menyisakan cahaya oranye yang masuk malu-malu lewat ventilasi, menciptakan bayangan panjang yang seolah hidup di dinding kamar.

​Nada masih tertidur atau bahkan bisa saja pingsan, aku sulit membedakannya—setelah meminum obat racikan yang dibawa Rayyan tadi siang. Napasnya berat, sesekali terdengar bunyi ngik halus dari tenggorokannya.

​Aku memutuskan untuk membereskan kamar ini. Selain baunya yang makin hapak (apek), debu juga mulai menumpuk di mana-mana. Aku mengambil sapu ijuk dari belakang pintu, mulai menyapu lantai keramik putih yang terasa dingin.

​Hatiku masih dipenuhi percakapan dengan Rayyan di tepi sungai tadi. Tentang penyakit 'Ain', tentang iri dengki. Pikiranku terus menebak-nebak, siapa orang yang tega melakukan ini pada kami?

"Srak... Srak..."

​Suara sapu beradu dengan lantai memecah kesunyian. Aku menyapu bagian kolong tempat tidur Nada. Gelap dan penuh debu. Tiba-tiba, ujung sapuku membentur sesuatu yang padat.

Duk.

​Bukan suara sampah plastik atau kertas. Suaranya berat, tapi tumpul.

​Aku mengeryit. Penasaran, aku berjongkok dan menyalakan senter HP. Cahaya putih menyorot ke kolong kasur yang gelap itu. Di sudut paling dalam, dekat tiang ranjang sebelah kiri—posisi di mana Nada selalu meletakkan kepalanya saat tidur, ada sebuah benda kecil berwarna putih kusam.

​Aku menjulurkan gagang sapu, menarik benda itu keluar.

​Jantungku berdegup kencang saat benda itu menggelinding keluar dan berhenti tepat di ujung kakiku.

​Itu adalah sebuah bungkusan.

​Bukan bungkusan biasa. Kain putih lusuh yang diikat menyerupai pocong kecil, dengan tiga ikatan benang hitam, di atas, di tengah, dan di bawah. Ukurannya hanya sebesar kepalan tangan bayi. Baunya...Masya Allah, baunya anyir seperti darah ayam yang sudah kering.

"Apa gerang ini?" bisikku, tanganku gemetar hebat.

(Apaan ini?)

​Logikaku menyuruh untuk tidak menyentuhnya, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutku. Aku mengambil tisu, melapisi tanganku, lalu dengan perlahan memungut bungkusan itu. Terasa berat dan padat.

Lihat selengkapnya