Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam ketika aku terbangun dari tidur ayamku di kursi samping kasur Nada. Suasana kamar terasa lebih ringan, tidak seberat dan se-pengap tadi sore saat Rayyan belum menemukan bungkusan terkutuk itu.
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan kain. Aku menoleh cepat.
Nada bergerak. Matanya terbuka perlahan. Tidak ada lagi sorot mata melotot atau kosong seperti orang kesurupan. Tatapannya sayu, tapi... sadar.
"Rin..." panggilnya lirih, suaranya serak dan kering.
Aku hampir melompat dari kursi saking kaget dan leganya. Aku langsung menyambar gelas air di meja.
"Ya Allah, Nad! Ikam sadar kah? Minum dulu, nah," ujarku sambil membantu menegakkan kepalanya sedikit.
(Ya Allah, Nad! Kamu sadar kah? Minum dulu, nih.)
Nada meminum air itu pelan-pelan, lalu menatap sekeliling kamar dengan bingung. "Aku kenapa, Rin? Kepalaku pusing banar. Rasanya kaya habis guring setahunan. Awakku sakit samuan."
(Aku kenapa, Rin? Kepalaku pusing sekali. Rasanya seperti habis tidur setahunan. Badanku sakit semua.)
Air mataku menetes. Rayyan benar! Ucapannya terbukti. Begitu buhul pocong itu dibawa pergi oleh Rayyan, Nada langsung siuman. Rayyan benar-benar penyelamat kami.
"Ikam sakit, Nad. Tapi tenang aja, Rayyan sudah meobati ikam. Inya tadi ke sini, inya yang nemuin..." Aku menahan diri untuk tidak bercerita soal santet dulu, takut Nada syok. "Intinya Rayyan sudah membereskan semuanya."
Nada tersenyum lemah mendengar nama Rayyan. "Alhamdulillah... Rayyan tu dasar kawan yang baik, lah. Padahal Dimas rancak manyariki inya."
(Alhamdulillah... Rayyan itu memang teman yang baik, ya. Padahal Dimas sering memarahi dia.)
Setelah memastikan Nada makan sedikit bubur dan kembali tidur dengan tenang, aku memutuskan pulang sebentar ke rumahku untuk mengambil baju ganti dan mandi. Rasanya badanku lengket oleh keringat dan sisa-sisa ketakutan.
Rumahku sepi. Orang tuaku sedang ke luar kota menengok nenek yang sakit, jadi aku sendirian. Biasanya aku berani, tapi malam ini, setiap sudut rumah terasa mencurigakan.
Aku masuk ke kamarku, mengunci pintu, dan menyalakan semua lampu.
Kejadian penemuan buhul pocong di bawah kasur Nada terus terbayang. Rayyan bilang pelakunya pasti orang yang tahu letak kasur dan pernah masuk ke kamar.