Sihir

Arham FR
Chapter #7

Bab 7

Matahari pagi di Martapura bersinar terik, kontras dengan suasana hatiku yang mendung. Setelah malam yang mencekam di kos Nada—di mana kami bertiga tidur berdesakan di ruang tengah dengan lampu menyala terang—aku memutuskan untuk mengambil tindakan.

​Rayyan setuju untuk menemaniku menemui Paman Ipul, adik dari ibuku yang tinggal di daerah Pesayangan. Paman Ipul dikenal orang sebagai pananamba (orang yang bisa mengobati penyakit non-medis), meski sehari-harinya beliau hanya pedagang permata di CBS.

​Nada kami tinggal sebentar dengan dititipkan pada ibu kos yang sudah kami wanti-wanti agar tidak membiarkan siapa pun masuk.

​Kami duduk di ruang tamu rumah panggung kayu ulin milik Paman Ipul. Wangi dupa gaharu samar-samar tercium, bercampur dengan aroma kopi panas yang baru disajikan.

​Paman Ipul memutar-mutar foto wajahku yang ditempeli rajah itu. Dahinya berkerut dalam, matanya menyipit seolah sedang membaca tulisan yang tak kasat mata.

"Berat ini, Rin ae," gumam Paman Ipul akhirnya, meletakkan foto itu di meja. Beliau menatapku tajam.

(Berat ini, Rin. )

"Nang maulah rajah ini lain urang sembarangan. Inya tahu hari lahir ikam, tahu kelemahan ikam. Ini Rajah Pambungkam, tapi levelnya tinggi."

(Yang membuat rajah ini bukan orang sembarangan. Dia tahu hari lahir kamu, tahu kelemahan kamu. Ini Rajah Pembungkam, tapi levelnya tinggi.)

​Aku menelan ludah, meremas ujung bajuku. "Pambungkam itu gasan apa, Man? Gasan supaya aku kada bisa bepandir kah?"

(Pembungkam itu buat apa, Paman? Buat supaya aku tidak bisa bicara kah?)

​Paman menggeleng. "Lain sekadar bepandir. Pambungkam ini gasan menutup hati wan pikiran ikam. Supaya ikam kada kawa malihat kebenaran, supaya ikam nurut lawan kemauan si pengirim, dan..." Paman menatapku iba. "Supaya ikam kada payu lawan laki-laki lain. Jodoh ikam dikunci."

(Bukan sekedar bicara. Pambungkam ini untuk menutup hati dan pikiran kamu. Supaya Kamu tidak melihat Kebenaran, supaya mau menuruti kemauan si pengirim, dan Supaya kamu tidak laku di laki-laki lain. Jodoh Kamu dikunci).

​Darahku berdesir. Dikunci jodohnya? Kejam sekali.

"Siapa, Man? Siapa yang tega?" tanyaku mendesak.

​Paman Ipul menghela napas, lalu matanya beralih menatap Rayyan yang duduk diam di sampingku. Rayyan tampak tenang, kepalanya menunduk takzim, tangannya memegang tasbih yang terus berputar pelan.

​Paman menatap Rayyan lama sekali. Suasana mendadak hening dan tegang. Aku melihat keringat dingin menetes di pelipis Paman Ipul.

Lihat selengkapnya