Malam itu, atmosfer di kamar kos Nada terasa berat dan sesak, seolah oksigen di udara menipis digantikan oleh asap kemenyan yang tak kasat mata.
Kami bertiga—aku, Rayyan, dan Nada berkumpul di kamar. Sesuai instruksi Paman Ipul, kami menaburkan garam kasar di sekeliling kamar sambil membaca Ayat Kursi. Rayyan memimpin dengan suara lantang dan fasih, membuatku merasa seolah berada di dalam benteng pertahanan yang kokoh.
Setelah ritual pagar diri itu, kami duduk melingkar di lantai karpet. Nada sudah bangun, menyandar lemas di tepi kasur. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering pecah-pecah.
"Rin... perutku sakit," rintih Nada sambil memegangi perutnya. "Rasa diparut-parut... perih banar."
(Rin... perutku sakit. Rasanya seperti diparut-parut... perih sekali.)
Aku mengusap punggung tangannya yang dingin. "Tahan, Nad. Tadi kan kita sudah makan bubur. Mungkin maag ikam kambuh gara-gara stres."
Rayyan yang duduk di depan kami sedang sibuk dengan HP-nya. Wajahnya serius.
"Rin, coba liat ini," kata Rayyan sambil menyodorkan layar HP-nya padaku.
Itu adalah profil Instagram Siska, mantan pacar Dimas. Rayyan menunjuk sebuah Instagram Story yang baru diunggah 10 menit lalu.

Darahku mendidih melihatnya. "Dasar bebinian (perempuan) gila! Ini pasti buat kita, Yan! Statusnya pas banar waktunya."
Rayyan menggeleng-gelengkan kepala, berdecak prihatin.
Rayyan menatap Nada dengan iba. "Sabar, Nad. Kita sudah tahu siapa musuhnya. Besok kita laporkan ini, atau kita datangi langsung rumahnya."
Tiba-tiba, Nada membungkuk dalam.
"Huek..."
Suara muntah terdengar dari tenggorokan Nada. Tubuhnya kejang hebat.
"Nad! Kenapa?!" pekikku panik, langsung memegang bahunya.
Nada tidak bisa menjawab. Matanya melotot, lehernya menegang dengan urat-urat yang menonjol biru. Ia mencengkeram sprei kasur hingga robek. Mulutnya terbuka lebar, seolah ada sesuatu yang besar menyangkut di tenggorokannya dan memaksa keluar.
"Huekkk!! Uhuk! Uhuk!"
Rayyan langsung sigap. Ia melompat mendekat. "Rin, ambil ember! Cepat!"