Pagi itu, amarahku sudah di ubun-ubun. Bayangan Nada yang muntah paku tadi malam tidak bisa hilang dari kepalaku. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat darah hitam dan paku berkarat itu.
Siska. Nama itu terpatri di otakku sebagai sumber segala petaka ini.
"Yan, ayo jalan. Aku sudah tahu di mana Siska kerja part-time," ujarku sambil mengenakan helm dengan kasar.
Rayyan sudah siap di atas motornya.
"Sabar, Rin. Kita ke sana niatnya tabayyun. Jangan langsung main hakim sendiri. Kita perlu bukti," nasihat Rayyan lembut, menyalakan mesin motor.
(Sabar, Rin. Kita ke sana niatnya klarifikasi. Jangan langsung main hakim sendiri. Kita perlu bukti.)
"Bukti apa lagi, Yan? Paku di perut Nada itu kurang bukti kah? Status IG dia semalam itu kurang jelas kah?" bentakku, emosiku meluap.
Rayyan mengangguk pelan. "Iya, aku paham. Maksudku, biar aku yang bicara nanti. Orang kaya Siska itu biasanya licik. Amun ikam emosi, ikam gampang diserang balik."
(Iya, aku paham. Maksudku, biar aku yang bicara nanti. Orang kaya Siska itu biasanya licik. Kalau kamu emosi, kamu gampang diserang balik.)
Lagi-lagi Rayyan melindungiku. "Oke. Aku nurut ikam."
Kami melaju membelah kemacetan pagi Kota Banjar menuju sebuah coffee shop di daerah Panglima Batur, tempat Siska bekerja sebagai barista.
Sesampainya di sana, coffee shop masih agak sepi. Aku langsung melihat Siska di balik mesin kopi. Dia terlihat cantik, modis, dan yang membuatku muak, ia terlihat bahagia.
Aku melangkah cepat masuk, lonceng pintu berdenting nyaring. Siska menoleh. Senyum ramahnya menyambut kami, namun senyum itu berubah menjadi kerutan bingung saat melihat tatapan tajamku.
"Eh? Arin ya? Temannya Dimas?" sapa Siska ragu-ragu. Dia menatap Rayyan sekilas. "Sama Rayyan juga?"
Aku menggebrak meja kasir. Brak!
"Jangan pura-pura bungul, Siska! Apa maksud status IG ikam semalam?" teriakku langsung.
Siska terlonjak kaget. Beberapa pelanggan menoleh. "Hah? Status apa? Maksud lo apa sih datang-datang ngamuk?"
"Hancur satu, hancur semua. Itu tulisan ikam kan? Ikam nyindir kami kan? Ikam yang ngirim santet ke Nada, kan?!" tuduhku berapi-api.