Silent Pulse

ARAZEL
Chapter #1

Satu

Udara dingin bulan November menyusup masuk melalui celah sistem ventilasi bus antarkota yang melaju meninggalkan Bandara Internasional Incheon. Nindy merapatkan jaket tebal yang baru dibelinya minggu lalu di Pasar Senen. Pandangannya lurus menembus kaca jendela besar di sampingnya. Deretan pohon dengan daun kemerahan dan kuning pucat berkelebat cepat, menyajikan pemandangan asing yang sama sekali berbeda dengan teriknya aspal Jakarta yang selama ini membesarkannya.

Bus ini membawa rombongan pekerja migran Indonesia menuju Gumi, sebuah kota industri di provinsi Gyeongsang Utara yang dikenal sebagai jantung produksi barang elektronik. Nindy menyandarkan kepalanya di kaca yang berembun. Tangannya, yang tersembunyi di balik saku jaket tebal itu, perlahan mengelus perutnya yang masih rata namun mulai terasa mengencang. Ada nyawa yang sedang tumbuh di sana. Sebuah kenyataan yang baru ia sadari dua minggu sebelum jadwal penerbangannya malam ini.

Semuanya terasa seperti lelucon yang diatur dengan sangat rapi oleh takdir.

Nindy menelan ludah. Rasa mual yang selama berminggu-minggu ia kira murni berasal dari stres akibat rentetan ujian EPS-TOPIK dan pelatihan fisik dari BP2MI di Jakarta, ternyata berasal dari janin yang diam-diam bertahan hidup di rahimnya. Usianya sudah masuk minggu kesepuluh.

Ingatannya tanpa sadar kembali ditarik pada sebuah sore di rumah berlantai dua kawasan Bintaro. Sore yang mengakhiri segalanya. Saat itu langit mendung dan aroma tanah basah baru saja naik ke udara. Nindy baru pulang dari minimarket ketika ia menemukan sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah marun tergeletak sembarangan di teras.

Langkah Nindy membeku di ambang pintu kamar utama. Di sana, di atas ranjang yang selama dua bulan terakhir menjadi saksi bisu keheningan pernikahan mereka, Arthur sedang bersama perempuan lain. Tidak ada kepanikan di wajah laki-laki itu saat melihat Nindy mematung di daun pintu. Arthur justru merapikan kemejanya dengan gerakan pelan dan sengaja, menatap Nindty dengan sorot mata sedingin es yang sama seperti saat ia pertama kali menjabat tangan penghulu.

Itu semua adalah skenario murahan. Arthur sengaja membawa perempuan itu, sengaja tidak mengunci pintu depan, sengaja membiarkan Nindy melihat semuanya. Tujuannya hanya satu. Ia ingin alasan yang mutlak untuk melepaskan ikatan yang tidak pernah ia inginkan.

Bagi Arthur, pernikahan mereka hanyalah sebuah formalitas belaka untuk menenangkan hati almarhum ayahnya yang saat itu sedang kritis di ruang ICU. Ayah Arthur adalah satu-satunya orang yang peduli pada Nindy setelah ia menghabiskan masa remajanya berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Pria paruh baya itu yang menyekolahkan Arthur, memberinya pekerjaan di bagian administrasi tokonya, dan di ranjang pesakitannya, beliau memohon agar Arthur menikahi Nindy. Sebuah permintaan terakhir dari seorang pria yang tersengal napasnya oleh kanker paru-paru.

Arthur menurut. Pernikahan itu terjadi di rumah sakit, disaksikan suara alat pemantau detak jantung dan bau obat yang menyengat. Seminggu setelah ijab kabul itu terucap, ayah Arthur mengembuskan napas terakhir. Dan sejak hari itu pula, neraka kecil Nindy dimulai.

Arthur tidak pernah menyentuhnya dengan kasih sayang, dia hanya menemui Nindy saat mabuk berat. Malam-malam yang terlewat dalam rumah besar itu terasa lebih sepi daripada kamar asrama panti asuhannya dulu. Keduanya seperti dua orang asing yang kebetulan terjebak dalam satu alamat. Puncak dari pengabaian itu terjadi di bulan keempat, tepat di hari hujan itu, saat Arthur mengusirnya tanpa satu pun kata maaf.

Surat cerai diurus dengan kilat. Arthur memiliki uang dan koneksi untuk memotong semua birokrasi yang rumit di pengadilan agama. Dalam hitungan minggu, Nindy kembali menjadi perempuan sebatang kara, membawa satu koper kecil berisi pakaian dan uang pesangon ala kadarnya yang dilemparkan Arthur padanya seolah ia adalah pengemis.

Bus terguncang pelan, menarik kesadaran Nindy kembali ke jalanan tol Korea Selatan yang mulus. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya sudah habis mengering di Jakarta. Ia tidak boleh menangis lagi.

Lihat selengkapnya