Silent Pulse

ARAZEL
Chapter #2

Dua

Terminal bus Gumi menyambut mereka dengan embusan angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Nindy merapatkan kerah jaketnya begitu kakinya menapak di atas aspal basah sisa gerimis sore tadi. Cahaya lampu jalanan yang berwarna kuning keemasan memantul di genangan air, berpendar bersama kedipan lampu neon merah dari minimarket 24 jam di seberang jalan. Suasana kota industri ini terasa begitu melankolis dan bertekstur. Tidak ada hiruk pikuk klakson bersahutan seperti di Jakarta. Hanya ada suara dengung mesin pabrik dari kejauhan dan langkah kaki para pekerja yang bergegas mencari kehangatan di balik tebalnya kabut.

Tari menyeret koper besarnya dengan susah payah di sebelah Nindy. Rombongan mereka digiring oleh seorang pria paruh baya mengenakan rompi tebal bertuliskan nama agen penyalur tenaga kerja. Pria itu berbicara dengan bahasa Korea yang cepat dan berlogat kental, sesekali memberi isyarat tangan agar mereka terus merapatkan barisan dan tidak tertinggal.

"Asramanya katanya cuma dua blok dari sini," bisik Tari sambil mengusap hidungnya yang mulai memerah karena udara beku.

Nindy hanya mengangguk. Kepalanya terasa pening, efek campuran antara mabuk perjalanan darat dan kelelahan fisik yang mendera tiada henti. Namun ia tidak berani mengeluh. Di negeri orang, keluhan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Ia menggenggam gagang kopernya erat, memaksakan langkahnya untuk terus maju melewati deretan kedai makanan kecil yang menebarkan aroma kuah kaldu pedas dan daging panggang.

Bagi Nindy, setiap langkah yang membawanya menjauh dari tanah air adalah langkah yang menjauhkannya dari bayang-bayang Arthur. Mengingat nama itu saja membuat ulu hatinya berdenyut nyeri. Laki-laki yang tidak pernah menatapnya lebih dari sekadar objek pemenuh kewajiban. Nindy masih ingat dengan jelas bagaimana Arthur selalu menolak tidur di ranjang yang sama dengannya, memilih menghabiskan malam di ruang kerja dengan alasan tumpukan dokumen proyek arsitekturnya. Kebohongan yang baru Nindy sadari ketika wangi parfum perempuan lain mulai tercium dari kemeja kerja Arthur, jauh sebelum hari pengkhianatan itu terungkap secara terang benderang.

Bangunan asrama itu akhirnya menjulang di depan mereka. Sebuah gedung lima lantai berbentuk kotak kaku dengan cat abu-abu pudar yang terlihat semakin suram di bawah cahaya minim. Tidak ada lift. Nindy dan belasan pekerja perempuan lainnya harus menggotong barang bawaan mereka menaiki tangga beton yang sempit dan berbau lembap. Lorong asrama diterangi lampu pendar putih yang berkedip pelan, mengingatkan Nindy pada bangsal rumah sakit tempat ia mengikat janji suci yang palsu itu.

Kamar yang dialokasikan untuk Nindy berada di lantai tiga. Ruangan itu sangat sempit, mungkin hanya seukuran garasi mobil kecil di rumah mantan suaminya. Terdapat dua ranjang susun berbahan besi, satu lemari kayu tipis yang catnya sudah mengelupas di bagian ujung, dan sebuah jendela kecil yang menghadap langsung ke tembok bata gedung sebelah. Ruang gerak di antara ranjang nyaris tidak ada.

"Wah, kita sekamar, Nindy," suara Tari memecah keheningan yang menyesakkan itu. Perempuan asal Madiun tersebut meletakkan kopernya di dekat ranjang bawah yang kosong. "Dua kasur lagi katanya buat pekerja dari Vietnam, besok pagi baru sampai."

Nindy meletakkan tas selempangnya di atas kasur atas. Ia menekan kasur tipis itu dengan telapak tangannya. Keras dan dingin. Namun ini jauh lebih baik daripada harus tidur di jalanan tanpa pelindung atap.

"Kamu ambil kasur bawah aja, Nindy. Aku bisa naik ke atas," tawar Tari sambil membuka resleting jaketnya. "Kamu kelihatan capek banget, dari tadi pucat terus."

Nindy menatap Tari sejenak, merasa sungkan dengan kebaikan perempuan yang baru dikenalnya beberapa jam lalu itu. "Nggak apa-apa, Tari? Aku takut ngerepotin."

Lihat selengkapnya