Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #1

Bab 1 : Kejatuhan Riverbrick

Matahari pagi bersinar hangat di atas desa Riverbrick, menyinari ladang-ladang subur yang terhampar luas. Deretan padi yang menguning meliuk-liuk mengikuti hembusan angin. Sungai yang berair jernih berkilauan mengalir di tengah-tengah desa menghidupi generasi demi generasi. Hasil panen dari desa Riverbrick sangat diminati oleh seluruh wilayah. Para pedagang sering bercanda bahwa padi di sini melambai-lambai meminta untuk segera dipanen.

Aktivitas penduduk berlangsung riuh di jantung desa. Gerobak pedagang bergemuruh membawa peti-peti berisi berbagai barang dagangan, pakaian, dan furnitur. Kapal-kapal tongkang tertambat di pelabuhan, di mana arus sungai akan membawa barang-barang dagangan ke utara menuju ibukota kerajaan Brickvia dan sekitarnya.

Di sebuah bangunan yang menjadi kantor pelabuhan di pinggir sungai, Rendo Karibata mengamati setiap aktivitas keluar-masuk barang.

"Manifest dari distrik Loma sudah tiba pagi ini," seru seorang petugas.

Ren, panggilan akrabnya, pemuda berumur sembilan belas tahun, masih cukup muda belia tapi instingnya lebih tajam daripada yang orang-orang kira, menerima laporan itu dengan anggukan. "Sudah ditimbang?"

"Sudah dua kali. Mereka kurang dua karung lagi."

"Mereka melakukannya lagi," gumam Ren, mencoret catatan di buku laporannya," beritahu petugas gudang Loma bahwa aku tahu dengan jelas kelakuan pedagang yang tidak jujur."

Suaranya tidak terdengar marah, hanya sedikit lelah. Mejanya berantakan dengan peta jalur, catatan timbangan, dan tumpukan manifest yang menumpuk seperti gunung.

Di luar, terdengar lonceng berdentang satu kali, menandakan inspeksi telah selesai di gerbang selatan. Ibu Ren selalu bilang bahwa bunyi lonceng itu menandakan bahwa desa bisa bernapas lega karena jam kerja petugas pelabuhan telah selesai dan akan segera pulang ke rumah masing-masing.

"Ren! Pulang lebih awal ya hari ini?" Suara ibunya bergema samar dari depan pintu. Ia berdiri membawa sekeranjang belanjaan, di lehernya terbalut sebuah syal berwarna biru langit.

Ren berbalik dan tersenyum tipis. "Iya, Bu! Jika inspeksi di dermaga barat bisa selesai lebih cepat, aku akan sampai di rumah sebelum senja!"

Ayahnya berjalan mendekat dari arah belakang ibunya. "Jangan terlalu lama atau kami akan menyeretmu pulang, Ren! Petugas kargo sepertimu juga butuh istirahat!"

Mereka tertawa bersama. Di desa ini, segalanya terasa harmonis. Urusan pekerjaan dan keluarga ada waktunya. Hidup para penduduk desa meski sederhana terasa penuh makna.

Ren kembali ke mejanya, membuka manifest berikutnya.

"Selisih berat. Dermaga penuh pedagang. Kargo datang kurang dua karung," ia mencorat-coret bukunya, tidak menyadari bahwa dalam hitungan jam, desa yang ia cintai akan terbakar dalam jeritan dan kobaran api.

Lalu momen yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya pun tiba.

Berawal dengan suara gemuruh di kejauhan. Sangat samar pada awalnya, kebanyakan penduduk akan menyangka itu hanyalah suara guntur dari pegunungan selatan. Bahkan Ren sama sekali tidak berpaling dari bukunya.

Tetapi kemudian gemuruh kedua datang lebih keras.

Kemudian ....

Sebuah jeritan memekik di udara.

Ren bangkit dari duduknya dan berdiri membeku.

Jeritan demi jeritan lainnya terdengar lebih dekat sekarang.

Lihat selengkapnya