Dengan setengah berlari, Ren kembali melewati jalan yang hangus. Telinganya berdenging. Dadanya terasa hampa. Jeritan yang ingin ia teriakan tidak kunjung keluar dari tenggorokannya.
Rumahku sudah tiada dan semuanya lenyap. Kalau masih ada sesuatu yang berdiri ... itu hanya kantor pelabuhan!
Ia berbalik arah menuju pelabuhan, menuju tempat terakhir yang masih memiliki bentuk di pikirannya.
Ketika ia tiba di tepi sungai, bangunan kantornya telah dipenuhi abu, dinding kayunya retak walaupun masih tegak berdiri. Kapal-kapal tongkang terbalik dan terbakar di dermaga, sementara peti-peti kargo mengapung seperti mayat bergelimpangan di sungai.
Ini ... mengerikan ...
Bisik Ren sambil mendorong pintu depan kantornya. Engsel pintu berderit pelan.
Ketika ia melangkahkan kakinya masuk, ia melihat buku-buku laporan berserakan di lantai. Kaca-kaca pecah, tinta-tinta bertumpahan melumuri lembaran manifest dengan noda hitam yang membuatnya tak bisa terbaca lagi.
Tangannya gemetar saat ia mengambil buku besar yang setengah hangus.
Ini ... menjadi saksi bisu kedamaian terakhir dalam hidupku sebelum semuanya berubah ....
Ia meletakkan buku itu kembali ke meja atas yang dipenuhi puing.
Tiba-tiba suara langkah kaki bergema dari luar dan suara-suara prajurit meneriakkan perintah terdengar semakin dekat. Pasukan Suragato menyisir desa dan membunuh siapapun yang melawan tanpa ampun.
Ren segera merunduk dan perlahan merangkak ke ruang belakang, tempat ia menyimpan dokumen perdagangan dan peta darurat.
Di sana, ia tak menemukan apapun selain debu dan puing-puing. Ia lalu duduk bersandar pada balok atap yang patah.