Meski malam semakin larut, tapi di jantung ibu kota kerajaan Brickvia, para pejabat kerajaan berkumpul di ruang utama istana untuk sebuah pertemuan darurat dengan wajah penuh kecemasan. Berita tentang Riverbrick yang jatuh ke tangan Suragato telah sampai ke telinga mereka.
Raja Kazamatsuri Hikusa, penguasa tertinggi Brickvia, berdiri di tengah-tengah ruangan, dikelilingi para petinggi-petinggi kerajaan.
"Laporan yang baru saja kami terima telah mengkonfirmasi bahwa bendera Suragato kini berkibar di atas Riverbrick," lapor Letnan Jenderal Futaba Watari, perwira tinggi penanggung jawab urusan militer," pasukan mereka melancarkan invasi tanpa peringatan. Warga sipil dibantai dan bangunan dibakar."
Keheningan menyelimuti ruangan tanpa seorang pun yang berbicara.
Raja Hikusa, mengenakan jubah formal kerajaan, menggertakan giginya. Ia bukan orang yang mudah marah. Tapi kali ini merupakan sesuatu yang berbeda.
Jenderal Yamada Masahiro, Kepala Strategi Perang Kerajaan Brickvia, membungkuk singkat sebelum angkat bicara. "Mereka tidak menyerang Riverbrick tanpa alasan. Mereka menginginkan sumber daya di sana. Tanah yang subur, jalur perdagangan sungai yang stabil, dan pelabuhan yang ramai oleh para pedagang. Ini adalah langkah pertama dalam skala invasi yang lebih besar."
"Seberapa besar?" tanya sang raja.
Masahiro menghela napas sejenak. "Jika kita tidak menjawab agresi ini, mereka akan mencapai gerbang Brickvia dalam waktu seminggu. Mungkin kurang."
Bisikan samar-samar terdengar di antara para petinggi istana. Salah satu penasihat istana menggelengkan kepalanya. "Pasukan kita sudah tersebar di perbatasan terluar dan sebagian besar dikerahkan di sepanjang perbatasan Kuchiwara!"
"Oleh karena itu, kita butuh seseorang untuk memimpin pasukan ke Riverbrick," kata Masahiro.
Sang raja menoleh perlahan. "Siapa yang kau usulkan?"
"Letnan Jenderal Inoue Kobayashi," jawab Masahiro cepat.
"Kobayashi ... dia sudah tua!" sela seorang penasihat kerajaan.