Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #9

Bab 9 : Pelatihan Lanjutan di Kastil Tua

Jauh dari tembok-tembok kokoh ibu kota Brickvia, sebuah kastil tua yang sudah lama ditinggalkan kini kembali menerima tamunya. Di sanalah, para pemuda rekrutan baru prajurit Brickvia akan dibekali tidak hanya tentang dasar-dasar mengangkat senjata, tetapi juga dengan kemampuan untuk bertahan hidup. Di tempat ini, Brickvia akan menempa dan melihat apakah generasi penerusnya bisa diserahi tanggung jawab untuk melindungi tanah mereka.

Kastil tua yang berdiri menjulang di tengah hutan itu dulunya merupakan tempat peristirahatan para bangsawan di wilayah paling terpencil Brickvia, namun kini dialihfungsikan sebagai tempat pelatihan meskipun di beberapa bagiannya sudah hancur dan rusak.

Para rekrutan baru berbaris di halaman depan kastil, napas mereka beruap di udara pagi yang dingin. Tiba-tiba keheningan pecah oleh suara perwira yang berteriak dengan lantang.

“Perhatian!”

Gerbang kayu terbuka. Letnan Jenderal Harada Kurosuke melangkah maju. Gestur serius terpancar dari setiap langkahnya.

“Aku di sini bukan untuk mengasuh kalian,” mulainya tanpa basa-basi. “Kalian bukan prajurit sampai kalian bisa berpikir dan bergerak sebagai satu kesatuan. Dan saat ini, kalian hanyalah seonggok daging yang dipakaikan seragam.”

Ia memberi isyarat kepada para ajudannya yang kemudian membuka peti-peti kayu berisikan senjata-senjata kayu. Pedang pendek, tombak, tongkat, dan perisai bundar mulai dikeluarkan dari dalam peti.

“Kita mulai dengan yang paling dasar, penguasaan senjata!" serunya. "Mulai dengan posisi genggaman, serangan, dan tangkisan!”

Kurosuke mengambil sebuah pedang pendek dan mendemonstrasikannya. Tebas, tarik, tangkis, dan kembali ke posisi semula. “Jika tanganmu terlalu longgar, pedangmu akan terlepas. Tapi jika terlalu kencang, lenganmu terkunci. Yang terpenting adalah fleksibel!”

Para rekrutan berdiri berpasangan-pasangan. Mereka memulai latihan seperti yang diperintahkan. Menyerang, menangkis, dan kembali ke posisi awal.

Di antara para rekrutan itu, Ren berpasangan dengan seorang pemuda yang bertubuh lebih besar darinya. Awalnya ia canggung. Tangannya kaku memegang pedang kayu dan setiap gerakan terasa terlambat setengah detik. Pukulan lawan membuat lengannya bergetar, pedang kayunya hampir terlepas dari pegangan.

Ia lalu menarik napas dalam-dalam.

Jangan hanya bertahan ... ikuti arusnya, lalu kembalikan serangannya ....

Bisiknya dalam hati, berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat gemetar di depan yang lain.

Setelah beberapa lama, Kurosuke kembali meneriakkan komando. “Kumpul!”

Para ajudannya kemudian membentangkan peta besar di atas meja.

“Sekarang,” kata Kurosuke,“ aku akan mengajarkan kalian tentang formasi pasukan. Ini adalah instrumen yang akan kalian gunakan untuk menghadapi lawan sebagai satu kesatuan.”

Ia memaparkan beberapa bentuk formasi pasukan yang biasa dipakai di medan tempur seperti Pincer, formasi yang menjepit pasukan lawan dari sisi depan dan belakang. Flank, formasi yang menargetkan sisi samping kiri dan kanan barisan lawan. Encirclement, formasi pengepungan dari seluruh sisi. Crescent, formasi berbentuk bulan sabit yang digunakan untuk memancing musuh untuk mengejar dan dilanjutkan dengan menutup ruang gerak lawan, serta formasi-formasi lainnya.

Salah seorang rekrutan bertanya, “Bagaimana jika medan di lapangan menghalangi formasi?”

“Kalau begitu, kalian harus melibatkan medannya sebagai bagian dari formasi!” jawab Kurosuke. “Gunakan tembok, sungai, titik sempit, bahkan bayangan. Kastil yang hancur ini adalah guru terbaik kalian!”

Kurosuke lalu melangkah mundur dan kembali berteriak. “Bentuk regu! Regu Satu, formasi encirclement! Regu Dua, Pincer! Regu Tiga, Crescent! Kalian punya sepuluh menit untuk merencanakan sebelum latihan dimulai!”

Ren ditempatkan di Regu Dua yang ditugaskan untuk membentuk formasi Pincer. Ia mengamati medan di sekitarnya.

Kondisi ini cocok untuk memasang jebakan dan menyerang dari titik buta ....

Pikirnya.

Kurosuke berdiri di atas balkon sambil melipat tangan di depan dada. Di sampingnya, ajudannya berbisik. “Lihat anak itu, Jenderal ... namanya Ren Karibata. Pergerakannya seolah-olah ia sudah pernah melakukannya sebelum ini!”

Mata Kurosuke tidak lepas mengamati semua pergerakan Ren. “Instingnya bagus ... awasi dia!”

Berjam-jam berlalu dan pada sore harinya halaman kastil dipenuhi para rekrutan yang terduduk kelelahan. Kurosuke berjalan pelan ke tengah-tengah mereka. “Kalian telah paham bagaimana membentuk formasi. Tapi perang bukan sekedar menyerbu dan mengayunkan pedang, namun juga koordinasi, kerja sama, dan membaca situasi!”

Ia lalu memberi isyarat kepada dua perwira junior. Mereka segera mengeluarkan bendera berwarna merah dan biru.

“Sekarang, kita uji kemampuan kalian untuk membuat rencana dan bergerak sebagai satuan unit. Kalian akan dibagi menjadi empat regu. Dua akan mempertahankan menara benteng dan dua lainnya akan menyerangnya.”

Tanpa membuang waktu, para rekrutan segera bangkit berdiri dan membuat regu.

Kurosuke kemudian berjalan menghampiri regu bertahan. “Tugas kalian semua adalah menjaga bendera di sisi kalian, tempatkan pengintai, identifikasi titik lemah, dan gunakan medan yang ada!"

Kemudian ia berseru kepada tim penyerang yang berada di seberangnya. “Tugas kalian, melucuti bendera di puncak menara dan melarikan diri kembali ke pangkalan. Jika salah satu dari kalian tertangkap, misi gagal. Kalian punya sepuluh menit untuk merencanakan, dan dua puluh menit untuk melaksanakan!”

Masing-masing regu segera berkumpul.

Ren tergabung di regu penyerang. Sang pemimpin regu, seorang pemuda bernama Hayashi, mengambil alih komando dengan cepat.

“Tim depan akan mengalihkan perhatian di pintu masuk utama. Kita akan mengirim tiga orang di sisi selatan kastil, di mana ada jalur drainase yang mengarah ke dalam. Jika kita mengatur waktunya dengan tepat, mereka bahkan tidak akan tahu kita sudah di dalam!”

“Bagaimana jika mereka menempatkan pengintai di sisi selatan kastil?” tanya Ren.

Hayashi menoleh ke arahnya. “Kau akan bergerak lebih dulu dari yang lain untuk mengintai jalur masuk dan mengubah rute jika terhalang. Kau di sini yang bergerak paling cepat, Ren!”

Lihat selengkapnya