Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #10

Bab 10 : Serangan Mendadak Suragato

Di atas perbukitan selatan yang menghadap ke arah kastil tua Brickvia, Letnan Kolonel Moriyama berdiri diam dengan tangan terlipat di depan dada. Di belakangnya, para prajuritnya berdiri tegak dalam barisan.

Seorang ajudan berjalan menghampirinya. "Letnan Kolonel! Izin mobilisasi pasukan sudah dikeluarkan oleh Jenderal Arakawa!"

“Bagus, kita bergerak cepat, tanpa menunggu lagi!” sahut Moriyama yang kemudian berpaling kepada para letnannya. “Tim pertama, tutup jalur hutan! Kita tutup jalur bala bantuan mereka!”

“Tim kedua!" lanjutnya. "Bergerak ke bukit dan amankan lokasi bagi pemanah untuk menembak dari sana!”

“Tim ketiga, kepung kastil dan tutup semua jalan keluar!” perintahnya lagi. "Tidak boleh ada penyampai pesan yang keluar dari sana!”

"Siap!" jawab para letnan kompak.

Ia mengepalkan tangannya. “Kita hancurkan mereka ... sebelum mereka tahu kita ada di sini!”

Tidak lama, lengkingan suara peluit berbunyi. Masing-masing tim segera bergerak ke tujuannya.

Moriyama mengamati cahaya api unggun yang jauh di dalam tembok kastil yang dipenuhi tawa. Tak ada satu pun yang tahu apa yang akan datang sesaat lagi kepada mereka. “Prajurit baru Brickvia ... aku akan ajarkan kalian apa itu rasa takut!”

Para prajurit Suragato segera menyelinap melalui semak-semak pepohonan. Dari segala arah, pasukan Suragato telah siap di posisi pengepungan.

Sebuah suara desingan terdengar tipis sebelum kemudian sebuah anak panah menancap di halaman kastil.

Letnan Jenderal Kurosuke yang mendengar suara itu dari atas balkon segera merapat ke pinggir pagar. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Sedetik kemudian, matanya melihat pergerakan dari arah hutan.

“Penyergapan!” bisiknya dengan napas tercekat. “Mereka ke sini untuk menyerang titik terlemah Brickvia!"

Di halaman, para rekrutan segera menyadari adanya serangan yang datang dari luar. Dengan cepat, mereka bergegas menyiapkan senjata. Wajah pucat menghiasi masing-masing dari mereka. Kastil tua itu kini bukan lagi tempat pelatihan, tapi medan perang nyata.

Napas Kurosuke menderu saat ia meneriakkan perintah dari atas balkon.

“Semuanya, ini bukan latihan! Bersiap menghadapi musuh! Gunakan kastil ini sebagai perisai kita! Sembunyi di reruntuhan, pasang jebakan, lakukan hit and run, dan jadikan medan sebagai keunggulan kita. Setiap sudut dan bayangan adalah senjata kita!"

Para rekrutan bergegas menumpuk puing, memblokir lorong-lorong, dan menyiapkan titik sempit di mana musuh akan dipaksa untuk berhenti.

“Tetap bersama dan saling menutupi!" teriak Kurosuke lagi. "Gunakan semua yang telah kalian pelajari! Formasi, pertahanan, dan koordinasi ... kita akan bertahan sampai bantuan datang!”

Di luar, suara langkah kaki musuh semakin dekat.

“Akan kita buat mereka menyesal telah meremehkan kita!” geramnya sambil menatap tajam ke arah gerbang.

Sejurus kemudian, desingan anak panah dan dentingan pedang bergema saat pasukan Suragato bergerak maju.

Di garis terdepan, Ren berdiri bahu-membahu dengan para rekrutan lain untuk menahan laju musuh.

“Tahan posisi!” seru Ren lantang.

"Hyaaah!" Seorang prajurit Suragato mengayunkan pedang ke arahnya.

"Ughh!" Ren segera menangkis pedang itu dengan belatinya, ia terdorong beberapa langkah ke belakang.

Di dekatnya, dua orang rekrutan lain dengan senyap melesat dari balik reruntuhan dan langsung menerjang prajurit Suragato itu.

"Aghh, sial anak-anak ini!" geram si prajurit sambil berlari mundur.

"Terima kasih!" seru Ren seraya menurunkan belatinya.

"Ayo! Mereka masih terus berdatangan!" sahut rekrutan di sebelahnya.

Ketika ia berbalik, Ren melihat seorang rekrutan yang lebih muda berjuang untuk melepaskan anak panahnya. Ren merunduk di depan rekrutan itu saat ia menarik busur.

"Lakukan!"

"Ya!" Rekrutan itu langsung melepaskan anak panah.

"Ughh!" Satu prajurit Suragato terjatuh tertembus anak panah, tapi langkah prajurit lainnya tidak kunjung berhenti.

"Mundur! Mundur!" teriak para rekrutan bersahut-sahutan.

Ren dan para rekrutan lainnya lalu bergerak mundur dan berkumpul di lapangan di tengah kastil bersama Kurosuke yang wajahnya terlihat tegang. Ia tahu waktu yang mereka punya tidak banyak.

“Komunikasi terputus. Tidak ada yang tahu saat ini kita dikepung,” katanya. “Kita harus mengirim sinyal SOS, sinyal yang tidak akan mungkin disalahartikan!”

Ia menunjuk ke arah menara kastil. "Seorang dari kita harus meluncurkan roket suar darurat yang kemungkinan besar ada di dalam sana! Jangan sampai salah urutan peluncurannya! Tiga ledakan pendek beruntun, tiga ledakan interval panjang, dan tiga ledakan pendek beruntun. Sinyal SOS ... dan itu harus ditembakkan dua kali! Sekali tembakan mungkin disalahartikan sebagai latihan. Dua kali berarti kita memang dalam bahaya!"

Tanpa ragu Ren melangkah maju. “Aku akan meluncurkan roket suarnya, Jenderal!"

Kurosuke mengangguk. “Itu tugas yang berbahaya. Kau harus bergerak cepat dan jangan sampai terlihat! Tidak ada kesempatan bagimu menghadapi mereka sendirian!”

“Aku mengerti, Jenderal!” jawab Ren sambil memberi hormat.

"Kalau begitu, segera bergerak!" perintah Kurosuke.

Ren langsung bergegas masuk ke dalam koridor-koridor reruntuhan yang berliku. Detak jantungnya berdebar saat ia menyelinap melewati patroli musuh dan menghindari anak panah yang melesat di atas kepalanya. Di belakangnya, suara pertempuran samar-samar meredup.

Tiba-tiba, terdengar derap langkah kaki bergema di dekatnya. Ren menghentikan langkahnya dan merapatkan tubuhnya pada tiang pilar yang runtuh.

Dua prajurit Suragato muncul dengan senjata terhunus. Tatapan mereka mengamati reruntuhan dengan seksama, mencari tanda pergerakan sekecil apa pun.

Tanpa sadar Ren merapatkan bibirnya yang gemetar.

Sampai kapan aku harus terus sembunyi?

Lihat selengkapnya