Di tengah dinginnya udara malam, Letnan Kolonel Moriyama berdiri diam menatap kastil tua itu dari kejauhan. Suara teriakan prajuritnya bersahut-sahutan dari dalam kastil. Operasi penyergapan yang ia harapkan bisa selesai dalam waktu singkat, kini telah terhenti. Garis terdepan pasukannya luluh lantah oleh jebakan yang ironisnya disiapkan oleh para prajurit rekrutan baru Brickvia.
“Berapa banyak kita kehilangan?” tanyanya tanpa menoleh.
“Lebih dari tiga puluh terluka, Letnan Kolonel!” jawab seorang sersan di belakangnya. “Mereka memasang jebakan! Prajurit kita tidak bisa mendekati mereka!”
"Jadi ... ini unit terlemah Brickvia?" geramnya.
Ia akhirnya berbalik. “Sudah cukup dengan penghinaan ini. Kita hancurkan kastil itu bersama dengan mereka!”
“Bawa regu pendobrak ke garis depan!" perintah Moriyama. "Target mereka, gerbang utara kastil! Perintahkan juga pasukan zeni untuk menemukan struktur terlemah di sana!"
Ia kemudian mengepalkan kedua tangannya. "Jika Kurosuke ingin terus bersembunyi seperti tikus tanah ... aku buat dia tidak akan pernah keluar lagi ke permukaan!"
Para perwira di depannya mengangguk patuh.
“Biarkan mereka berteriak minta tolong, bala bantuan mereka tidak akan datang tepat waktu!” gumamnya.
Di dalam kastil, Kurosuke kembali berdiri di atas balkon. Matanya tertuju ke arah gerbang utara.
Tiba-tiba matanya terbelalak melihat sebuah pelantak tubruk bergerak maju dikelilingi sekelompok prajurit zeni Suragato.
“Mereka tidak berniat bertarung!" geram Kurosuke. “Mereka memilih merobohkan kastil ini!”
Ia berbalik dan segera berseru lantang.
“Bersiap pertempuran jarak dekat! Mereka bermaksud mengubur kita hidup-hidup!"
“Infanteri!” teriak Kurosuke lagi. “Siapkan semua pisau lempar, kunai, kapak, semuanya! Tunggu komando dariku sebelum mulai melempar serempak!”
Ia lalu meneriakkan perintah selanjutnya. “Pemanah! Incar pasukan zeni mereka terlebih dahulu! pengintai dan kavaleri! Maju ke depan infanteri dan angkat perisai! Tugas kalian menahan serangan dari depan dan samping!”
Ia kemudian menoleh ke samping. “Medis dan logistik, angkat perisai! Lindungi sisi belakang pemanah!"
“Dan terakhir, zeni!” Kurosuke lalu menunjuk ke gerbang utara. “Hentikan pelantak tubruk itu, apa pun caranya!”
Tanpa ragu, Ren sudah melesat berlari bersama para rekrutan zeni lainnya menuju menara utara.
Gerbang utara tidak boleh jatuh ke tangan musuh!
Tidak malam ini!
Saat mereka mencapai tangga menara utara, tanah terasa bergetar di bawah mereka.
"Pelantak tubruk bergerak semakin mendekat ke gerbang utara!" seru Ren kepada rekrutan zeni yang lain. “Kita harus hentikan mereka apa pun yang terjadi!”
Dengan anggukan, mereka segera bergegas ke posisi, siap menghentikan pasukan zeni Suragato sebelum kastil itu berubah menjadi kuburan mereka sendiri.
Di bawah mereka, pasukan zeni Suragato melangkah dengan perisai terangkat, melindungi pelantak tubruk dari serbuan anak panah.