Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #16

Bab 16 : Serangan Dalam Badai

Hujan yang belum berhenti mengguyur sejak semalam tidak menyurutkan tekad para jenderal beserta prajuritnya yang telah berkumpul tidak jauh dari gerbang selatan Kastil Likeland. Mereka telah siap untuk merebutnya kembali ke pangkuan Brickvia hari ini. Jarak pandang yang terbatas itu justru tidak disia-siakan oleh pasukan Brickvia untuk bergerak mendekati kastil.

Meski jubah hijau gelapnya basah kuyup oleh hujan, Kolonel Koizumi berdiri mengamati medan di hadapannya dari balik pepohonan. “Kita butuh pantauan jarak dekat di bukit sebelah barat kastil!"

Ia lalu menoleh ke sekelompok pasukan zeni yang berkumpul di dekatnya. “Sersan Takeda Aoi, aku ingin kau memimpin tim ke sana!”

Sang sersan melangkah maju. Di sampingnya berdiri Kopral Maeda dan Prajurit Dua Ren Karibata.

Koizumi kemudian menunjuk ke arah perbukitan di sebelah gerbang barat. “Hanya bukit itu yang belum terpantau oleh divisi pengintai kita. Takeda, kau bawa mereka berdua. Amati segalanya. Apapun yang kau temukan di sana, aku ingin laporan lengkap!”

“Siap, Kolonel!” seru Takeda diiringi anggukan. “Kami segera bergerak!”

Ketiga prajurit itu berpisah dari formasi utama. Perlahan, mereka maju ke medan yang basah oleh hujan. Seragam hijau gelap mereka menyatu dengan deretan pohon yang basah kuyup, menciptakan kamuflase agar tidak terdeteksi oleh pasukan Kuchiwara di luar gerbang Kastil.

Setelah beberapa saat berjalan menjauhi gerbang barat, mereka tiba di sisi lembah. Di sana, mereka menahan napas melihat apa yang tampak di depan mata mereka.

"Ini ..." gumam Ren dengan mata terbelalak.

"Bendungan Rengakawa ... bendungan tua, aku tidak menyangka ternyata ini masih berfungsi," sahut Takeda.

Sebuah bendungan besar menjulang di hadapan mereka. Di balik pintu bendungan, air sungai bergolak dengan ganas akibat tingginya curah hujan pagi itu.

“Prajurit patroli!” seru Maeda seraya menunjuk ke atas bendungan. “Mereka tahu betapa vitalnya bendungan ini!”

Ren mengamati aliran sungai di luar bendungan, instingnya seketika muncul. “Andai saja kita bisa membuka pintu air itu ... Kastil Likeland akan dihantam oleh gelombang air bah. Perang ini mungkin akan berakhir bahkan sebelum dimulai.”

Takeda mengangguk. “Kita harus melaporkan ini kepada Kolonel Koizumi!”

Tanpa berkata-kata, mereka segera berbalik untuk menyampaikan ide brilian itu demi mengubah jalannya perang.

Ketika mereka sampai di dalam tenda komando divisi zeni, Ren segera melangkah maju. “Kolonel, kami menemukan bendungan tua di sisi barat gerbang! Masih berfungsi namun dijaga ketat!"

“Kerja bagus, aku akan melaporkan hasil temuan kalian kepada Jenderal Masahiro dan apa yang akan kita lakukan dengan bendungan itu!" ujar Koizumi seraya berjalan keluar tenda.

Tidak lama kemudian, di dalam tenda komando utama, Kolonel Koizumi membentangkan peta di atas meja. Di sekelilingnya berkumpul para perwira tinggi Brickvia. Kepala Strategi Perang, Jenderal Masahiro berdiri fokus di belakang meja, sementara Letnan Jenderal Watari, Letnan Jenderal Ryusuke Suzuki, dan Mayor Jenderal Tabrizu berdiri diam mengamatinya.

Koizumi lalu menunjuk ke sebuah titik di sebelah barat Kastil Likeland.

“Ini," katanya memulai pembicaraan, "adalah Bendungan Rengakawa. Terletak di atas Sungai Ergan yang berada di luar batas wilayah Brickvia. Tim Sersan Takeda telah mengkonfirmasi bendungan itu masih berfungsi dan dijaga, tetapi jarak pandang yang terbatas bisa kita manfaatkan untuk mendekat dan merebut bendungan.”

Masahiro mengangguk. “Rengakawa ... bendungan itu sudah dibangun oleh beberapa generasi yang lalu sebagai sarana irigasi dan pengendalian banjir. Jika pintu airnya dibuka atau dihancurkan, air bah akan menerjang langsung ke Kastil Likeland.”

Mata Masahiro lalu menatap air hujan yang turun di luar tenda. “Badai ini ... akan kita gunakan untuk menguasai medan perang!”

Ia kemudian menunjuk ke atas peta. “Tujuan kita sederhana. Kastil Likeland harus direbut kembali dengan utuh. Tanpa kerusakan yang tidak perlu atas infrastrukturnya.”

Ia memandangi satu per satu para komandan di depannya.

Lihat selengkapnya