Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #17

Bab 17 : Taktik Banjir

Setelah beberapa saat berjalan, pasukan divisi zeni tiba di luar Bendungan Rengakawa. Masing-masing prajurit segera mengambil posisi berlindung di balik pepohonan.

Berada di barisan paling depan, Kolonel Koizumi mengamati prajurit Kuchiwara yang melakukan patroli di sepanjang bendungan.

“Mereka telah siap mengantisipasi serangan,” gumamnya.

“Kolonel, kemungkinan ada titik buta di sisi barat bendungan, tetapi kita harus merangkak agar tidak terdeteksi,” ujar Maeda yang berada di sampingnya.

Koizumi lalu berbalik ke arah pasukannya. “Bendungan harus dibuka, bukan dihancurkan. Jika bendungan hancur, air bah akan menghancurkan Likeland dan sekitarnya. Tetapi jika kita berhasil dalam misi ini, kita hanya akan melenyapkan pasukan Kuchiwara di luar gerbang tanpa menyentuh apa pun yang ada di dalam gerbang kastil!”

Koizumi kemudian menoleh ke arah Maeda dan Ren yang berada tepat di depannya, “Maeda, Ren! Aku percayakan kepada kalian berdua untuk melakukan infiltrasi ke ruang kendali bendungan dan membuka pintu air. Aku akan memimpin tim di sini sebagai pengalih perhatian mereka!"

"Siap, Kolonel!" sahut Maeda dan Ren bersamaan.

Ren segera berjongkok di samping Kopral Maeda. Mereka berdua berjalan dengan merunduk rendah di tepi barat bendungan. Ia berpegangan di dinding batu. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Jika mereka gagal membuka pintu air, maka seluruh rencana Masahiro akan berantakan.

Aku harus tetap fokus!

Sekarang keberhasilan operasi ini ada di pundak kami berdua!

Tepat di depannya, Maeda mengangkat dua jari, sinyal untuk siap bergerak. "Kau siap, Ren?"

Ren mengangguk. "Aku siap di belakangmu, Kopral!"

Seorang penjaga patroli di depan baru saja berbalik membelakangi mereka, tanpa sadar memberikan jeda singkat bagi Ren dan Maeda untuk bergerak ke celah titik buta rute patroli.

"Maju, Ren!" bisik Maeda yang langsung melesat ke depan diikuti Ren di belakangnya.

Sejurus kemudian, beberapa prajurit dari tim Koizumi melesat keluar dari balik pepohonan, sebuah usaha untuk mengalihkan perhatian para penjaga.

"Serangan musuh!" teriak salah seorang penjaga yang langsung menghunuskan pedangnya.

Sejumlah prajurit penjaga lainnya segera berhamburan keluar untuk menghadang tim Koizumi dan hanya meninggalkan dua penjaga tersisa di dalam ruang kendali bendungan.

Koizumi menahan napasnya. "Sekarang bergantung pada kalian ... Maeda, Ren," gumam Koizumi pelan.

Tidak lama, Ren dan Maeda akhirnya tiba di pintu masuk ruang kendali bendungan. Dari situ mereka mengamati situasi di dalam. Sebuah tuas kayu besar yang terhubung ke pintu air terlihat di tengah ruangan.

“Hanya ada dua penjaga di dalam dan tuas itu kelihatannya bisa digunakan. Itulah target kita!” bisik Maeda.

"Aku siap!" ujar Ren mencoba menenangkan diri.

Maeda melirik kembali ke arah Koizumi yang menunggu di balik pepohonan. Ia mengangkat tangan sebagai sinyal bahwa mereka siap untuk bergerak masuk.

Lihat selengkapnya