Di depan jendela kastil yang menghadap ke arah kota, Kolonel Kanbe berdiri diam dengan mengatupkan bibirnya rapat. Ekspresi kegeraman tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Ia menunggu detik demi detik tim sabotasenya membakar seisi kota beserta pasukan Brickvia di dalamnya. Namun, di depan matanya pasukan Brickvia justru semakin banyak yang berkumpul di sekeliling kastil.
Seorang perwira muda lalu menghampirinya. “Kolonel! Pasukan Brickvia telah mengambil alih kota di luar kastil! Unit sabotase kita dilumpuhkan!”
Kanbe tidak berbalik dan tidak memberikan tanggapan apa pun.
“Haruskah kita memberi sinyal menyerah?” tanya si perwira lagi.
Kanbe akhirnya berbalik perlahan. “Tidak, kita tidak menyerah sekarang. Brickvia percaya pertempuran sudah berakhir. Tapi mereka tidak sadar ini baru saja dimulai!”
Tatapan Kanbe menerawang ke luar jendela sekali lagi. “Siapkan api! Nyalakan ketika mereka tiba di sini. Biarkan mereka terbakar bersama kastil!”
"Baik, Kolonel!” jawab si perwira memberi hormat.
"Jika ini adalah akhirku,” gumam Kanbe,“ maka biarlah itu berakhir dengan kehormatan!”
Di luar, para komandan Brickvia memimpin pasukan mereka mendekat ke gerbang utama kastil. Ren melangkah dengan hati-hati bersama pasukan zeni di barisan terdepan. Matanya mengawasi kemungkinan adanya jebakan yang masih terpasang di sepanjang jalan.
Tidak lama, seluruh pasukan Brickvia telah berkumpul di depan gerbang utama kastil. Tatapan para komandan tertuju pada Masahiro, menunggu perintah terakhir untuk memulai penyerangan.
Dengan mengangkat tangannya, Masahiro meneriakkan komando penyerangan. "Seluruh pasukan, serang!"
Sejurus kemudian terompet perang bergema mengiringi pasukan Brickvia yang maju serentak bagai ombak.
Di dalam aula kastil, Kolonel Kanbe mengamati pasukan Brickvia yang maju serempak ke arahnya. Para perwiranya berdiri tegap di belakangnya. Di sekelilingnya, tong-tong berisi minyak dan belerang telah siap, menunggu disulut sebagai perlawanan terakhir Kanbe.
“Kita sudah membiarkan mereka sampai sejauh ini,” gumam Kanbe. “Begitu mereka masuk ke kastil ini, kita akan lenyapkan semua bersama dengan mereka di dalamnya!”
Suara derap langkah prajurit Brickvia terdengar semakin dekat. Kanbe menoleh ke prajurit di sebelahnya yang mengangkat obor menyala.
“Sekarang!” perintah Kanbe.
Prajurit itu melempar obor ke lantai kastil yang telah dibanjiri dengan minyak di sepanjang aula.
Dalam sekejap, api berkobar dan lidah api segera menyambar tong-tong belerang di sekitarnya yang menyulut api semakin besar dan melebar.
Asap hitam dalam sekejap bergumul memenuhi aula.
Pasukan Brickvia berhenti tepat di luar kastil. Mata mereka terbelalak melihat kepulan asap hitam keluar dari pintu dan jendela kastil.
"Api! Api!" teriak seorang prajurit di barisan paling depan.
Letnan Jenderal Watari mendongak ke atas menatap asap hitam yang membumbung naik ke langit.
“Mereka membakar kastil!” geramnya.
Melihat kepulan asap itu, Masahiro kembali meneriakkan perintah. "Divisi zeni! Kita harus menghentikan api ini sebelum seluruh kastil runtuh!”
"Semuanya! Kita padamkan api sebelum semua ini runtuh!" perintah Koizumi kepada pasukannya yang berbaris tepat di belakangnya.
Ketika para prajurit Brickvia satu per satu tiba di depan pintu utama kastil, tiba-tiba pintu yang terbakar itu terbuka. Sesosok pria melangkah keluar dari pintu itu.
Kolonel Kanbe.
Pedangnya terhunus dengan api berkobar tepat di belakangnya. Matanya mengamati satu per satu prajurit Brickvia di depannya.
“Jadi,” seru Kanbe di tengah derak api. “Siapa di antara kalian yang punya nyali menghadapiku?”
Para jenderal Brickvia yang berdiri di depan pintu kastil hanya bisa terdiam sambil memegang erat pedang masing-masing.
Ketegangan semakin mencekam saat Kanbe mengarahkan pedangnya ke arah mereka.