Sehari setelah pertempuran di Kastil Likeland berakhir, keheningan membentang di ruang utama istana Brickvia. Di dalamnya, Raja Hikusa duduk terdiam dikelilingi para pejabat tinggi Brickvia. Matanya terpaku pada satu titik di peta tempat Kastil Likeland berada. Pusat perdagangan di kawasan barat Brickvia itu kini telah hancur.
Di hadapannya, Jenderal Yamada Masahiro berdiri memaparkan hasil operasi militer di Kastil Likeland yang baru selesai dilaksanakan sehari sebelumnya.
“Operasi Likeland dieksekusi dengan terukur. Banjir tertahan di luar gerbang. Kolonel Kanbe sempat mencoba membakar kastil, tapi Jenderal Hiryuu berhasil mengalahkannya sebelum kastil terbakar habis.”
Seorang anggota dewan istana mengangkat tangannya dan mencibir pemaparan itu. “Terukur? Kau tahu, pusat perdagangan sudah musnah! Jalan dan jembatan terputus! Kita memenangkan sebuah kota mati!”
Letnan Jenderal Watari melangkah ke samping Masahiro. “Dengan segala hormat, jika kita melakukan konfrontasi frontal, korban dari pihak Brickvia akan jauh lebih besar. Kastil itu pun bahkan bisa jadi tidak berhasil kami rebut kembali. Kami menetralkan ancaman dan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.”
BRAK!
Sang anggota dewan menggebrak tangannya ke meja. “Yang kita selamatkan hanyalah sebuah reruntuhan! Empat puluh dua persen perdagangan melewati rute barat Likeland. Itu bukan strategi! Ini keruntuhan ekonomi!”
Riuh rendah suara memenuhi ruangan. Raja Hikusa tetap bergeming, genggaman tangannya semakin erat di pegangan kursinya.
Dengan mengangkat tangannya, Raja Hikusa membuat seisi ruangan kembali hening, sebelum akhirnya ia pun angkat bicara.
“Ozaki,” ujarnya. “Status?”
Menteri Ozaki bangkit. “Banjir merusak jalan, jembatan, beberapa bangunan dan pasar. Estimasi awal menunjukkan penurunan sekitar empat puluh dua persen dari total aktivitas perdagangan. Pemulihan akan lambat, bahkan dengan adanya upaya perbaikan sesegera mungkin.”
Tatapan Raja Hikusa tidak beranjak. Ia terdiam sejenak sebelum mulai berbicara kembali. “Brickvia ... tidak bisa dan tidak akan dikalahkan hanya karena hilangnya satu pusat perdagangan!”