Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #23

Bab 23 : Menahan Gempuran

Dengan suara menggelegar, teriakan Arakawa menggema di seluruh barisan Kuchiwara-Suragato. “Seluruh unit, maju!”

Genderang ditabuh, terompet berbunyi, kekuatan penuh dikerahkan. Medan perang bergetar dengan derap langkah prajurit yang maju dengan serempak.

Dari bawah kaki bukit, Masahiro mengangkat tangannya. “Ini saatnya, Shirosawa! Beri sinyal kepada Hiryuu!”

"Laksanakan!" seru Shirosawa yang langsung melambaikan bendera sinyal maju-mundur berulang kali.

Jauh di garis depan, Hiryuu mengangguk melihat sinyal itu. “Bersiap sambut serangan! Kavaleri, maju!”

Hiryuu maju menerjang bersama unit kavaleri terdepannya, menghantam garis terdepan Suragato. Suara pedang yang saling beradu seketika terdengar nyaring diikuti ringkik kuda dan desingan perisai yang menahan tusukan tombak.

Tepat di belakang pasukan kavaleri, Koizumi berteriak lantang. “Divisi zeni! Bergerak serempak!”

Ren, Nishiyama, Takeda, Maeda, dan Shiori bergerak beriringan menjaga formasi. Zirah yang lebih ringan membuat gerakan mereka lebih cepat. Di hadapan mereka, prajurit Kuchiwara-Suragato maju menerjang mengayunkan pedang dan menusukkan tombak sementara anak panah melesat di atas kepala.

Kepala Ren seketika menunduk saat sebuah ayunan pedang seorang prajurit nyaris menebas wajahnya.

Meski ia berhasil menghindari serangan pertama, prajurit itu berhasil melayangkan tendangan lurus tepat ke dada Ren.

"Agh!" teriak Ren terdesak mundur. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang atas serangan itu.

“Jangan ada yang keluar barisan!” teriak Koizumi.

Seorang prajurit Kuchiwara lainnya menerjang ke arahnya dengan kapak terangkat.

Ini nyata ... orang ini akan membunuhku!

Tepat saat kapak itu mengayun turun, Nishiyama menangkis dari arah samping dengan pedangnya. “Ren! Bergerak!”

Ren segera melangkah ke belakang berlindung di dalam barisan.

Koizumi berteriak dari depan. “Pertahankan formasi! Jangan berpencar!”

Di sekelilingnya, para prajurit zeni terus merangsek maju. Takeda mendorong perisainya ke dada musuh. Maeda dan Shiori menangkis serangan demi serangan dengan tombak mereka.

Ren mencoba mengikuti, tetapi langkah kakinya goyah. Sebuah ayunan pedang musuh mengenai lengannya.

Ia terengah-engah. Pandangannya menjadi kabur.

Aku akan mati. Aku tidak seperti mereka. Aku belum siap.

Tiba-tiba ia teringat.

Suara Mai-sensei bergema di benaknya.

“Perang bukanlah pertunjukan satu orang. Kau tidak sendirian, Ren. Kau hanya harus tetap bersama mereka, selangkah demi selangkah. Begitulah cara kita melewati ini.”

Ia melihat ke kirinya. Nishiyama menangkis serangan lain. Ke kanannya, Shiori memberi anggukan untuk tetap bertahan.

Aku ... tidak sendirian!

Ketika musuh berikutnya menyerang, Ren kembali merunduk di bawah ayunan pedang dan menusukkan pedangnya ke perut musuh, kemudian dilanjutkan dengan satu sapuan kaki yang berhasil menjatuhkan prajurit itu.

BRUK!!

Lihat selengkapnya