Di seberang medan perang, Jenderal Arakawa duduk di atas kudanya mengamati seorang pengintai dari kejauhan berlari ke arahnya.
“Laporan terkini?" tanya Arakawa.
Pengintai itu berlutut, terengah-engah.
“Letnan Jenderal Kobayashi ... telah gugur, Jenderal!”
Untuk sesaat Arakawa terdiam.
“Kobayashi ...” gumamnya, “ini pukulan telak bagi Brickvia.”
Sebelum si pengintai bangkit, seorang penyampai pesan lainnya berlari kencang ke arahnya dengan wajah pucat.
“Jenderal! Bala bantuan pasukan Brickvia baru saja tiba! Dipimpin oleh Pangeran Daichi! Formasi mereka akan pulih kembali lebih cepat dari yang diperkirakan!”
Arakawa menghela napas perlahan.
“Jadi ... bala bantuan mereka sudah datang,” ujar Arakawa seraya berbalik ke arah para perwira di belakangnya. “Itu akan menjadi dorongan semangat tempur dan moral mereka."
Arakawa mengangkat telapak tangannya ke langit.
“Sudah cukup darah untuk hari ini. Kita telah memberi mereka pukulan telak. Tetapi menekan lebih jauh hanya akan menyia-nyiakan nyawa di pihak kita,” ujarnya. “Bersiap mundur penuh, rute selatan! Jangan tinggalkan yang terluka!”
“Ya, Jenderal!” teriak ajudannya sambil memberi hormat.
Arakawa menoleh ke medan perang sekali lagi. “Kematian Kobayashi telah memberikan kita keunggulan, namun kemenangan tidak bisa diraih hanya dalam satu hari.”
Ia pun berbalik, jubahnya berkibar di belakangnya saat ia memimpin pasukan Suragato-Kuchiwara mundur ke selatan di bawah keheningan langit sore.
Sementara itu, suara derap kaki kuda Daichi bergemuruh melintasi tanah ketika ia sampai di garis tengah. Letnan Jenderal Kurosuke, Ryusuke, dan Watari sudah berada di sana dengan ekspresi suram terlukis di wajah mereka.