Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #27

Bab 27 : Titik Balik

Iring-iringan pemulangan jenazah Kobayashi ke Brickvia diiringi dengan keheningan. Tidak ada sorak sorai layaknya jenderal yang pulang dari medan perang. Hanya suara derap langkah kaki perwira yang terdengar memecah kesunyian.

Mengawal di depan tandu yang diarak, Jenderal Hiryuu berjalan diapit oleh Letnan Jenderal Watari dan Ryusuke. Di sisi samping kanan dan kiri tandu, Letnan Jenderal Kurosuke, Waruyama, Jenderal Masahiro, dan Laksamana Muda Hayate, berjalan tegak dengan mata lurus ke depan.

Dan berjalan di belakang tandu, Letnan Kolonel Inoue Kiyoshi, adik dari Kobayashi, meskipun tidak ada air mata yang tumpah, kesedihan terpancar dari langkahnya yang gontai.

Saat rombongan melewati jalan utama Brickvia, kerumunan penduduk menundukkan kepala mereka sebagai simbol penghormatan.

Di tengah lapangan istana, rombongan akhirnya berhenti. Waruyama melangkah maju, menghadap ke arah kerumunan prajurit dan penduduk yang telah berkumpul.

“Hari ini,” seru Waruyama lantang meskipun suaranya bergetar,“ Brickvia kehilangan Letnan Jenderal Kobayashi, sosok yang berdiri sampai akhir demi kita semua!"

"Ia memberi kita harapan. Dan sekarang ia kembali bukan sebagai seorang jenderal, melainkan sebagai pahlawan!” lanjutnya.

Kemudian, perlahan satu per satu dari mereka berbalik, membawa serta keheningan yang jauh lebih keras daripada genderang perang mana pun.

Hari telah berganti, namun keheningan masih menyelimuti ibu kota Brickvia ketika Ren berdiri di depan rumah Kobayashi.

Meski ia mampu bergerak menghindari terjangan pedang dan tusukan tombak di medan perang, tetapi kini kakinya terasa lebih berat daripada zirah besi untuk melangkah masuk ke rumah keluarga Kobayashi yang tengah berkabung.

Pintu depan kemudian terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Miyuki, putri Kobayashi, membukakan pintu dan menatapnya.

"Nyonya Miyuki ... aku turut berduka atas kepergian Letnan Jenderal Kobayashi," ujar Ren.

“Terima kasih. Apa kau bertugas di bawah divisi ayahku?” tanya Miyuki.

Ren menundukkan kepalanya. “Aku Prajurit Dua Rendo Karibata, dari divisi zeni. Aku bersama ... Letnan Jenderal Kobayashi sampai akhir.”

Miyuki mengangkat tangannya menutupi bibirnya, sementara air mata kembali terkumpul di sudut matanya.

Ren sekuat tenaga mengangkat kepalanya untuk menatap Miyuki.

“Aku melihatnya gugur.” ujar Ren pelan. “Beliau bertarung sampai akhir … untuk membiarkan kami lolos ... kami tidak akan bisa kembali ke sini jika bukan karenanya.”

Miyuki menghapus air mata dengan punggung tangannya.

"Apakah ayahku ... mengatakan sesuatu?” tanyanya.

Ren mengangguk. “Sebelum Beliau memerintahkanku untuk lari ... ia memintaku untuk menyampaikan ini kepadamu.”

"Katakan," ujar Miyuki dengan suara tercekat.

“Katakan pada Miyuki … ayahnya ... akan selalu mencintainya ... dari tempat… yang tidak bisa ia lihat,” ucap Ren mengulang kata-kata terakhir Kobayashi.

Lihat selengkapnya