Menjelang fajar, armada laut Brickvia yang dipimpin Laksamana Hayate bergerak semakin dekat ke garis pantai Kuchiwara. Di atas geladak kapal, para jenderal berkumpul. Mata mereka mengamati kabut tebal yang menutupi daratan.
“Jarak pandang buruk,” gumam Hayate. "Kuchiwara akan menyerang kita tanpa aba-aba.”
“Mereka pasti sudah menyadarinya, kita harus siap,” sahut Watari.
Di samping mereka, Ryusuke menimpali. “Pengintai mereka pasti mengawasi garis pantai. Kita harus bergerak cepat setelah mendarat!”
Seketika pembicaraan mereka terhenti melihat asap suar berwarna merah yang membumbung naik dari atas puncak bukit jauh di daratan.
“Itu sinyal dari Koizumi!" teriak Masahiro. "Bersiap mendarat!” Pertempuran segera dimulai begitu kita menginjak daratan!”
Hayate mengangkat tangan memberi instruksi kepada anak buah kapalnya. “Gulung layar! Persiapan mendarat!"
Ketika kapal perang itu akhirnya merapat ke tepi pantai, gelombang pertama pasukan Brickvia langsung menuruni kapal dengan cepat. Pedang dan tombak telah terhunus di tangan mereka.
Sesuai dugaan para jenderal Brickvia, unit pantai Kuchiwara sudah berada dalam posisi berlindung di balik barikade. Tangan para pemanah Kuchiwara dalam posisi menarik busur mengarah ke mereka.
Keheningan pagi itu seketika pecah oleh suara perwira Kuchiwara yang meneriakkan perintah.
"Tembak!"
SYUT! SYUT! SYUT!
Hujan anak panah segera melesat ke langit mengarah ke barisan pasukan Brickvia.
“Panah dari atas!” teriak Kurosuke seraya mengangkat perisainya sendiri tepat saat gelombang tembakan pertama menyerang.
“Perisai! Bentuk barisan!” bentak Waruyama. “Maju rapat! Jangan ada celah!”
Para prajurit pemegang perisai sontak maju mengangkat perisai lebar mereka untuk melindungi rekan-rekannya yang turun memasuki garis pantai.
Di atas geladak kapal komando, Masahiro berdiri terpaku melihat serangan balasan yang dilancarkan Kuchiwara.
“Infanteri kita tidak bisa masuk lebih jauh!" gumamnya.
Ia mengangkat tangannya siap memberi instruksi selanjutnya. "Beri sinyal ke Tabrizu, tembak barisan pemanah mereka!"
Seorang petugas sinyal segera menyalakan suar. Asapnya segera melesat naik menuju langit pagi.
Dari atas puncak bukit, Tabrizu melihat asap suar merah membumbung naik dari garis pantai.
"Inilah saatnya," bisik Tabrizu mengangkat tangannya. "Bidik!"
Para pemanah di belakangnya kompak menarik tali busur panah masing-masing.
“Tembak!” perintah Tabrizu seraya mengayunkan tangannya turun dengan cepat.
SYUT! SYUT! SYUT! SYUT!
Serbuan anak panah berterbangan ke langit. Masing-masing mencari sasarannya yang berlindung di balik barikade Marase.
"Aaagghh!!!"
"Pemanah!!!"