Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #33

Bab 33 : Balon Udara

​Di luar tenda komando Kuchiwara, Shigure berdiri diam sementara gemuruh pertempuran terdengar dari lereng bukit di sampingnya dan garis pantai di depannya.

​Seorang pengintai berlari ke arahnya dan segera memberi hormat. “Mereka telah sampai di kaki bukit, Jenderal! Dan unit pendarat mereka merangsek masuk lebih dalam ke daratan!"

​Shigure bergeming untuk beberapa saat sebelum berbalik ke ajudannya. “Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah saatnya kita luncurkan 'itu'!"

​Mata ajudannya melebar. “Anda yakin, Jenderal?”

​“Aku tidak suka menggunakan kartu as kita tanpa persetujuan Raja Arakumo,” gumamnya,“ tapi jika kita tidak mengerahkan 'itu' sekarang, bendera Brickvia akan berkibar di tiang-tiang Marase sebelum hari ini berakhir!”

​"Saya mengerti!" seru ajudan itu seraya memberi hormat dan melangkah pergi.

Tidak berselang lama, asap putih perlahan naik dari tengah kota Marase. Sebuah sinyal konfirmasi untuk menggunakan sesuatu yang diyakini Shigure dapat membalikkan jalannya perang.

​Dari dalam hutan yang tidak jauh dari gerbang barat kota Marase, sekumpulan prajurit Kuchiwara melihat tanda asap itu.

"Itu sinyalnya! Luncurkan!" teriak salah seorang perwira.

​Prajurit lainnya dengan sigap melepas sebuah tali tambat yang tertancap di tanah.

Sejurus kemudian, "kartu as" yang disebut Shigure itu terangkat dari permukaan tanah. Perlahan demi perlahan melayang naik lebih tinggi dari atap bangunan mana pun yang ada di tengah kota Marase.

Dari dalam ruang tahanan, Yukime menempelkan kepalanya ke jendela kecil yang menjadi satu-satunya penghubung dirinya dengan dunia luar. Pandangannya terpaku melihat sesuatu yang tidak familiar perlahan naik ke langit. Untuk sesaat bayangan benda itu menutupi sinar matahari yang masuk menembus jendelanya.

“Apa … itu?” bisiknya.

Sesuatu yang belum pernah dilihat oleh Brickvia, Suragato, Tenban, dan bahkan oleh rakyat Kuchiwara sendiri:

Balon udara.

Bukan hanya satu, tetapi tiga unit.

​Di dalamnya, para pemanah menarik busur panah mereka, siap melepaskan serbuan anak panah dari langit.

​Dan kemudian, untuk sesaat bayangan gelap menutupi medan perang yang tengah berkobar.

Seluruh mata prajurit Brickvia sontak terbelalak melihat ke arah langit. Tiga buah balon udara terbang menghalangi sinar matahari di atas mereka bagaikan burung predator yang siap menerkam mangsanya di darat.

Lihat selengkapnya