Di ujung pantai sebelah gerbang barat Brickvia, hiruk pikuk aktivitas pelabuhan telah bergaung dari pagi. Peti-peti kargo yang berdatangan, penumpang yang turun-naik kapal laut, serta para pekerja pelabuhan yang hilir-mudik mengangkut barang-barang merupakan pemandangan biasa seperti hari-hari lainnya di pelabuhan.
Tapi bagi Ren, misi yang ia jalani hari ini bukanlah sebuah misi biasa.
Infiltrasi.
Seorang diri, ke seberang benua lain.
Berdiri diam di pintu masuk dermaga dengan mengenakan pakaian sipil, Ren meninggalkan seragam Divisi Zeni Brickvia di kamar baraknya. Di lehernya melingkar syal biru langit, syal yang dulu milik ibunya. Dalam perjalanan ke wilayah yang benar-benar asing, syal itu adalah pengingat atas keluarganya dan rumahnya yang kini hanya tinggal kenangan. Penampilannya kini tidak berbeda dari para pelajar yang hendak menuntut ilmu di tanah seberang.
Di tangannya, ia memegang kunci penting untuk memasuki wilayah Kekaisaran Airaseu: satu set dokumen palsu, yang secara pribadi diserahkan kepadanya oleh Menteri Ozaki.
Ia mengingat kata-kata Ozaki sehari sebelumnya.
“Mulai saat ini, kau adalah Rene Flussziegel, seorang mahasiswa. Pelajari rahasia senjata udara itu ... lalu kembalilah hidup-hidup!”
Dengan menarik napas, Ren merapatkan mantelnya dan bergegas menuju meja pos imigrasi.
Seorang petugas berdiri di belakang meja imigrasi menyambutnya dan mengambil dokumen-dokumen yang diserahkan Ren.
“Teknik Aeronautika?” tanya petugas itu sambil membaca dokumen palsu di tangannya.
Jantung Ren berdebar, tangannya bergetar di balik saku mantelnya. Ia tidak suka memberikan jawaban palsu, tapi kali ini ia terpaksa melakukannya.
“Ya,” jawab Ren singkat,“ mahasiswa pertukaran. Disponsori oleh Universitas Vabaria.”
Petugas itu membolak-balik kertas di tangannya, lalu matanya mengamati syal biru langit di leher Ren.
Sejurus kemudian, petugas itu membubuhkan stempel di atas dokumen itu dan mengembalikannya kembali pada Ren.
“Silakan naik. Kapal akan segera berangkat. Selamat menikmati perjalanan!"
Ren mengangguk lega dan segera menaiki tangga kayu untuk memasuki kapal layar antarbenua itu.
Syal biru langitnya kembali berhembus tertiup hembusan angin laut ketika Ren sampai di atas dek kapal, seakan-akan menjadi tanda perpisahan dengan tanah Brickvia yang kini sudah tidak ia pijak lagi.
Ren lalu menyenderkan tubuhnya di pagar pembatas dan menatap cakrawala. Untuk saat ini, dia bukan lagi Ren Karibata, prajurit Brickvia. Dia adalah Rene Flussziegel.
“Rene ... Fluss ... Flussziegel,” ucapnya setengah berbisik, mencoba mengucapkan nama itu,“ Flussziegel ….”
Seorang anak buah kapal yang kebetulan lewat, mendengar bisikan itu.
“Bicara dengan hantu, Nak?" tanyanya geli.