Keesokan harinya sebelum fajar menyapa, Ren dan Habi sudah duduk di atas kereta kuda lintas kerajaan yang melaju melewati jalan berbatu. Dinginnya udara dini hari memunculkan gumpalan asap putih setiap kali Ren menghembuskan napas.
“Ini surat rekomendasi dan surat pengantarmu,” ujar Habi sambil menyodorkan selembar kertas. “Kita pasti akan diperiksa di pos perbatasan!”
Ren menerima surat itu dengan kedua tangannya. Nama 'Rene Flussziegel' tertulis jelas di atasnya.
“Terima kasih … Profesor!” Ren mencoba tersenyum meski terasa kaku.
Kereta kuda yang mereka tumpangi melaju melewati pasar Vabaria yang baru memulai aktivitasnya pagi itu. Beberapa pedagang mengangkat barang dagangan mereka. Di seberangnya, para pemanggang roti mengeluarkan roti yang baru matang dari oven batu.
"Ah ... wangi sekali!" gumam Habi memejamkan mata menikmati aroma roti panggang itu.
Namun Ren hanya memperhatikan surat di pangkuannya. Hatinya berbisik cemas.
Apakah ... aku bisa lolos dari pemeriksaan?
Beberapa jam kemudian, ketika matahari mencapai titik tertingginya, pemandangan berganti. Bangunan-bangunan mulai menghilang dan digantikan hamparan padang rumput. Hingga akhirnya, di ujung jalan terlihat sebuah bangunan besar yang berdiri tegak: Pos Perbatasan Gillia.
Kereta kuda mereka melambatkan lajunya.
Penjaga berseragam Airaseu berdiri tegak dengan tombak di tangan. Ketika Ren dan Habi turun, penjaga itu mengangkat tangan.
“Selamat siang. Pemeriksaan dokumen," seru penjaga itu dalam bahasa Airaseu.
Habi menyerahkan kartu akademisinya dengan gerakan santai, seolah ini hanyalah rutinitas harian. Ren mencoba meniru, tapi ketika ia mengulurkan surat rekomendasi, tangannya bergetar. Lebih karena gelisah daripada karena udara dingin Gillia.
Penjaga itu memeriksa dokumen-dokumen mereka. Matanya menatap wajah Ren cukup lama. Begitu lama sampai Ren merasa jantungnya berhenti berdetak.
“Ada masalah?” Ren akhirnya bertanya dalam bahasa Airaseu.
Penjaga itu terkejut Ren bicara duluan. Lalu ekspresi wajahnya berubah ramah.
“Ah, Universitas Vabaria rupanya!” serunya tiba-tiba, senyumnya mengembang. “Silakan lanjut. Selamat datang di Gillia!”
Ren menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan.
“Bagus,” ujar Habi terkekeh sambil menepuk punggung Ren pelan,“ bahasamu tadi cukup meyakinkan!”
Ren hanya mengangguk, masih mencoba menenangkan dirinya sendiri sementara portal perbatasan dibuka untuk mereka.