Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #40

Bab 40 : Pengejaran

​Hangatnya cahaya matahari pagi menyinari jalan saat Ren dan Profesor Habi tiba di depan gerbang Universitas Vabaria. Ketika kereta kuda meninggalkan mereka berdua, Habi akhirnya berbalik menghadap Ren. Ia menarik napas sejenak dan tersenyum ramah.

​“Sepertinya ... sudah waktunya kau kembali ke Brickvia, Ren,” kata Habi. “Saya harus kembali ke pekerjaan saya di sini. Berhati-hatilah!”

​“Terima kasih, Profesor ... tanpa Anda, semua ini tidak akan mungkin terjadi!" jawab Ren seraya menundukkan kepala.

​Habi tersenyum tipis. “Ingat, Mountpar sendiri setuju untuk berbagi teknologi balon udara ... demi kepentingan orang banyak, bukan untuk kehancuran!”

​Mereka berjabat tangan dengan erat, lalu Habi berbalik dan melangkah masuk ke dalam gerbang universitas.

Ketika Habi hilang dari pandangannya, ​Ren mulai menyusuri jalan untuk kembali menuju pelabuhan, melewati keramaian pasar yang memulai aktivitasnya. Para pedagang berteriak menjajakan barang dagangan mereka, memanggil-manggil Ren untuk menghampiri toko mereka.

"Ayo Nak, mampir dulu!" teriak seorang penjual.

Tiba-tiba firasat prajurit Ren bangkit. Di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang sibuk dengan jual-beli, ia merasa ada sesosok bayangan yang mengikutinya.

Perasaan ini ....

Seperti ada seseorang yang mengincarku!

Ren menolehkan kepalanya ke belakang dengan cepat, namun yang ia lihat hanyalah kerumunan para pengunjung pasar yang hilir-mudik.

"Ada apa, Nak? Ada barangmu yang tertinggal?" tanya seorang wanita tua di depan tokonya.

"Ti-tidak ada apa-apa Bu, aku hanya takut tertinggal kapal!" sahut Ren dalam bahasa Airaseu.

"Kalau begitu bergegaslah!" seru wanita tua itu.

Ren hanya mengangguk singkat. Ia mempercepat langkahnya dan bergerak hati-hati.

​Di belakangnya, sesosok bayangan berjubah panjang dengan tudung yang menutupi wajah mengikutinya dengan cepat melewati sela-sela kerumunan.

​Pikiran Ren berpacu seiring derap langkahnya.

Aku sekarang bukan prajurit ....

Dengan cepat, Ren yang segera berbelok masuk ke dalam gang kecil untuk menghilangkan jejak. Nahas, gang itu merupakan sebuah jalan buntu.

Jalan buntu!

Ren langsung berbalik cepat dan segera berlari.

Namun di ujung gang, pria berjubah itu mendorong jatuh gerobak untuk menutup jalur pelarian.

"Ren Karibata!" teriak pria itu menyingkap tudungnya. "Sudah cukup!"

Ren mundur selangkah melihat pria itu mencabut sebilah belati dari jubahnya dan melangkah maju mendekatinya.

Aku datang ke Airaseu tanpa senjata!

Tapi kini ....

Ren memundurkan kaki kanannya satu langkah ke belakang.

Kuda-kuda Ashi Sabaki.

"Menyerah sekarang!" teriak pria itu berlari menerjang maju dan mengangkat belatinya ke atas.

"Hyaaah!" pria itu mengayunkan belatinya cepat.

Langkah samping!

Lihat selengkapnya