Jauh di luar kemegahan istana Kuchiwara, barisan prajuritnya masih terbaring di atas deretan ranjang di dalam ruang klinik yang tidak jauh dari pelabuhan. Di samping salah satu ranjang itu, Yukime dengan hati-hati menusukkan jarum suntik ke lengan seorang prajurit yang terluka.
"Ini akan terasa sedikit sakit, tapi kau pasti kuat," bisiknya pelan.
"Ugh!" Prajurit itu menahan perih saat jarum suntik menembus kulitnya.
"Baik, sudah selesai," ujar Yukime menarik kembali jarum suntik itu.
"Terima kasih, Bu!" sahut prajurit itu.
Yukime hanya mengangguk singkat. Pikirannya melayang ketika ia berjalan keluar koridor klinik.
Brickvia masih belum bergerak ....
Belum sampai sekarang.
Mungkinkah ada seseorang yang akan datang ke sini untukku?
Matanya melihat ke arah langit malam yang sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik yang menemani.
Ayah ....
Aku tahu kau akan bergerak ... cepat atau lambat ....
Ketika hari berganti, pintu kamar barak Divisi Zeni Brickvia terbuka di pagi hari.
Suara derap langkah kaki terdengar sesaat sebelum akhirnya berhenti.
"Karibata!" Sebuah suara memanggil dengan penuh urgensi.
Ren mendongak dari atas ranjangnya. "Ya, Sersan?"
Sersan Takeda berdiri dengan tangan terlipat di depan pintu. "Kau dipanggil ke istana. Letnan Jenderal Watari ingin bertemu denganmu. Segera!"
Ren langsung berdiri, jantungnya berdebar. Jarang sekali seseorang dengan pangkat letnan jenderal memanggil seorang prajurit dua, kecuali ada suatu perkara serius.
"Di mana?" tanya Ren.
"Ruang rapat militer. Sekarang!" tegas Takeda.