Kabut masih menyelimuti jalanan Brickvia saat Ren melangkah keluar dari barak divisi zeni. Hari ini, ia akan memulai sebuah misi di mana namanya disebut langsung oleh Raja Hikusa sebagai satu-satunya yang dianggap paling mampu untuk menjalaninya.
Menyelamatkan Yukime.
Ketika Ren melangkah keluar dari benteng kokoh Brickvia, kereta kuda pertama tujuan Tenban telah menunggu di luar gerbang timur.
"Tenban? Silakan naik!" seru sang kusir mempersilakan Ren masuk.
Ren mengangguk singkat dan melangkah memasuki kereta kuda.
Tidak lama, suara ringkikan kuda terdengar dan kereta kuda itu perlahan menjauh dari gerbang timur Brickvia hingga tidak terlihat lagi ditelan kabut pagi.
Ketika matahari mulai naik, kereta kuda itu tiba di depan gerbang barat Tenban. Tapi bagi Ren, ini adalah gerbang yang akan membawanya ke posisi terakhir Yukime.
Ren melangkah turun dari kereta kuda, matanya mengamati aktivitas para penduduk Tenban yang sudah sibuk dari pagi. Dentingan palu pandai besi bersahut-sahutan dari bengkel yang berderet di pinggir jalan. Di toko sebelahnya, beberapa pekerja dengan telaten sedang menyelesaikan kerajinan tangan.
Seorang pandai besi memanggil Ren yang sedang memperhatikannya bekerja. "Silakan masuk, mau cari apa, Nak? Pedang baja atau tombak? Ditempa oleh penempa terbaik di Tenban!"
Ren tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. "Tidak Pak, aku hanya kagum melihat tempat ini sudah sibuk dari pagi!"
"Kau baru pertama kali ke sini? Ya, beginilah Tenban sehari-hari ... banyak orang asing tidak menyangka Tenban sesibuk ini!" timpal pandai besi itu.
Ren mengangguk perlahan.
"Aku ... hanya sekedar lewat. Tapi aku terkesan betapa banyak industri yang hidup di sini ... bukan makanan atau hasil alam, melainkan kerajinan dan senjata!"
Pandai besi itu tersenyum. "Kami, orang Tenban, membuat apa yang tidak bisa dibuat oleh orang lain. Sumber daya alam mungkin memang langka, tetapi kami bisa mengimbanginya di sektor lain.
Tatapan Ren beralih ke tumpukan anak panah yang baru selesai ditempa.
Sebuah kerajaan yang tidak bisa menguasai hasil alam ... ternyata masih ada jalan lain dengan memanfaatkan hasil karya tangan manusia ... dengan begitu, tidak perlu ada lagi perang memperebutkan tanah yang subur.
Mungkin suatu hari nanti, perdagangan dan kerajinan akan lebih berarti dari pedang dan pertumpahan darah.
Pikirannya melayang meski kakinya tetap melanjutkan langkah menuju pelabuhan yang ramai.
Setibanya di sana, kapal-kapal dari berbagai ukuran telah bersandar di samping dermaga. Para awak kapal hilir-mudik mengangkat peti-peti barang bersiap untuk pelayaran berikutnya.
Di antara kerumunan itu, mata Ren tertuju pada satu sosok. Seorang pria yang mengenakan mantel berlambang Kuchiwara di dadanya, berdiri tepat di luar ruang kargo kapal barang berbendera Kuchiwara.
Pria itu meneriakkan perintah kepada para pekerja pelabuhan dan anak buah kapal, menunjukkan otoritasnya.
Napas Ren tercekat. Tak pelak, pria itu tak diragukan lagi merupakan perwira pertama kapal kargo yang menjadi target misinya.