Di hari yang kini beranjak gelap, ketenangan ibukota Kuchiwara dirampas oleh lengkingan suara peluit sinyal darurat di seluruh penjuru kota sementara nyala obor menerangi jalan-jalan mengiringi derap langkah kaki para prajurit.
Keriuhan malam itu dipicu oleh satu nama, Harada Yukime.
Putri Letnan Jenderal Harada Kurosuke dari Brickvia, yang diklaim sebagai tahanan kota oleh Kuchiwara, kini dikabarkan melarikan diri dari tempat terakhir ia terlihat.
Merespon panggilan darurat yang dikeluarkan, satu regu pasukan militer Kuchiwara segera dikerahkan menuju klinik pelabuhan.
"Dia hilang!" lapor salah seorang prajurit setibanya di klinik itu dan menyisir setiap ruangan. "Harada Yukime tidak ada di sini!"
"Penyusup itu membawanya!" geram yang lain.
"Menyebar! Sisir setiap jalan dan gang menuju pelabuhan!" teriak pemimpin regu.
Beberapa regu lainnya berpencar menuju pelabuhan untuk menyisir setiap sudut jalan dan gang.
Di tengah pencarian itu, Ren dan Yukime berlari melintasi sebuah koridor gelap, berpacu dengan waktu yang semakin sempit.
"Mereka ... sudah sadar aku menghilang!" ujar Yukime yang mendengar suara peluit bersahutan dan derap langkah sekelompok prajurit yang berlarian.
"Ya, sepertinya kita sedang diburu oleh seisi kota ini. Jadi kita harus cepat!" sahut Ren mempercepat langkahnya.
"Temukan dia! Jangan biarkan dia kabur!" teriak seorang komandan regu memberikan perintah dari ujung koridor.
Kedua kaki Yukime bergetar dan terasa berat untuk melangkah ketika terdengar suara derap kaki yang semakin mendekat dari arah depan mereka.
"Lewat sini!" bisik Ren menarik tangan Yukime menuju lorong samping yang lebih sempit.
Ren berlari melalui kelok-kelok gang sempit di pinggiran Kuchiwara dengan Yukime mengikuti di belakangnya. Suara langkah kaki prajurit semakin dekat terdengar di sekeliling mereka.
Tiba-tiba, seorang prajurit Kuchiwara menerjang dari kegelapan.
"Dia di sini!" teriaknya lalu mengayunkan pedangnya ke arah Ren.
Dalam sekejap Ren mundur selangkah menghindari pedang itu seraya mencabut belatinya sendiri.
"Sial, kau!" geram prajurit itu menarik kembali pedangnya untuk serangan berikutnya.
Namun Ren lebih cepat. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera melesat maju.
Dalam satu gerakan, Ren menebaskan belatinya melintang ke arah paha prajurit itu.
"Agh!" teriak prajurit itu roboh dan tidak bisa bangkit mengejar.
"Ayo bergerak!" bisik Ren berbalik dan kembali menarik tangan Yukime.
"Di depanmu!" tunjuk Yukime panik.
"Hyah!!" Seorang prajurit lain menyerang, pedangnya mengayun membabi-buta.
Ren menunduk rendah dan kembali menebaskan belatinya melintang merobek betis prajurit itu yang seketika langsung ambruk ke tanah, tidak lagi mampu untuk bangkit berdiri.