Di bawah langit malam yang ditaburi bintang-bintang, balon udara yang membawa Ren dan Yukime perlahan terbawa hembusan angin menuju puncak pegunungan Kuchiwara.
Dengan berpegangan di sisi gondola, Yukime melihat ke bawah. Tangannya menahan helaian rambutnya yang diterpa tiupan angin.
Tiba-tiba ....
SYUTT!!! SYUTT!!! SYUTT!!!
Suara busur panah terdengar dilepaskan dari arah bawah. Samar-samar terdengar pula teriakan perintah untuk menembak ke atas.
"Mereka menembaki kita!" teriak Ren seraya menarik lengan Yukime untuk menjauhi tepi gondola.
Kemudian terdengar lebih banyak anak panah melesat ke langit, mengincar gondola mereka berdua.
Ren tidak dapat menghitung sudah berapa banyak anak panah yang dilepaskan.
"Ren," bisik Yukime pelan," apa kita akan baik-baik saja?"
Ren tidak segera menjawab. Telinganya tertuju pada suara rentetan anak panah yang membelah angin. Namun, ia merasa ada sesuatu yang janggal.
Tunggu ... jangan-jangan!
Ia segera menuju pinggir gondola. Sejenak melihat ke bawah dan kembali berbalik.
"Tidak ada anak panah yang berhasil mencapai ketinggian ini," ujarnya. "Kita sudah melewati jarak tembak mereka!"
Sudah ratusan anak panah yang ditembakkan ke atas, mungkin lebih. Namun tidak ada satu pun yang menemui sasarannya. Bukan karena lemahnya akurasi para pemanah Kuchiwara, tapi karena laju anak panah itu telah kehilangan momentumnya.
Mata Yukime tidak lepas dari Ren untuk beberapa saat. Bibirnya sedikit terbuka, menyadari bahwa saat ini mereka berdua berhasil melarikan diri dari cengkraman Kuchiwara melalui jalur langit.
Balon udara yang awalnya digunakan sebagai senjata di medan perang, kini berubah menjadi penyelamat mereka.
Bagi Yukime, ini merupakan momen tak terlupakan dalam hidupnya.
Mereka tak tersentuh sekarang. Oleh prajurit, senjata, maupun perang.
Yukime perlahan menghembuskan napas yang selama ini tanpa sadar ia tahan.
"Kita ... benar-benar terbang," gumamnya.