Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #48

Bab 48 : Sesuatu Yang Harus Kulindungi

Angin malam berhembus semakin jarang. Balon udara yang membawa Ren dan Yukime perlahan tidak melayang lebih jauh. Di pinggir gondola, Ren menengok ke bawah. Jarak mereka dengan puncak bukit semakin jauh, menjadi penanda bahwa barisan pegunungan Kuchiwara benar-benar sudah terlewati.

"Sudah waktunya," ujar Ren yang melangkah ke tengah-tengah gondola.

Ren memutar alat pembakar. Api di atasnya semakin kecil.

"Ki-kita turun?!" kata Yukime, melihat ujung pepohonan yang semakin mendekat di bawah mereka.

Perlahan tapi pasti balon udara mengurangi ketinggian, lebih rendah dari pucuk pohon pinus hingga akhirnya menyentuh daratan di sebuah hamparan rerumputan.

Ren membuka pintu gondola dan melangkah keluar terlebih dahulu.

"Hati-hati, agak licin," ucap Ren menjulurkan tangannya kepada Yukime.

Yukime meraihnya dan akhirnya kakinya kembali menapaki tanah setelah beberapa saat di udara.

"Terima kasih," ujarnya pelan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ren kembali masuk ke dalam gondola dan memutar alat pembakar lagi.

CEKLAK!!

Ren langsung berjalan cepat keluar gondola dan menutup pintunya ketika api kembali menyala.

Selubung balon udara kembali mengembang dan perlahan gondola terangkat dari tanah meninggalkan Ren dan Yukime di bawahnya.

"Ke mana dia akan terbang?" tanya Yukime, kepalanya masih mendongak memperhatikan balon udara yang melayang semakin tinggi.

"Angin berhembus ke arah barat," kata Ren. "Ke arah laut, biarkan Kuchiwara mengejar jejak yang salah."

"Dan kita?" tanya Yukime, kini menoleh ke arah Ren.

"Kita akan pergi ke arah timur. Menuju jalan raya utama di luar perbatasan Kuchiwara untuk menumpangi kereta kuda."

Yukime mengangguk kecil, lalu melirik ke atas terakhir kalinya. Ke arah balon udara yang semakin mengecil.

"Semoga ... kita berhasil seperti rencanamu!"

Ren menghembuskan napas sebelum menjawab. "Ayo jalan!"

Mereka berbalik dan berjalan menerobos deretan pepohonan dan langsung disambut oleh kegelapan hutan serta dinginnya angin malam yang menusuk kulit.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ren, menoleh ke belakang.

Yukime mengangguk.

"Aku tidak apa-apa," jawab Yukime pelan.

Namun Ren dapat melihat dengan jelas tubuh Yukime kelelahan dan gemetar menahan dingin.

Setelah beberapa lama berjalan, sebuah cahaya terlihat di ujung deretan pepohonan yang semakin menipis.

"Di sana!" seru Ren sambil menunjuk. "Jika kita cepat, kita masih bisa mengejar kereta kuda terakhir ke Tenban!"

"Ayo, kita tidak bisa berhenti sekarang atau kita akan tertinggal!" seru Yukime yang sontak berlari mendahului Ren.

Ren berlari menyusul Yukime dengan napas tersengal-sengal menuju harapan terakhir mereka.

Lihat selengkapnya