Cahaya matahari menyingsing pagi, menyinari ibukota Brickvia yang bersiap memulai hiruk-pikuknya. Para penjaga gerbang berganti giliran, sementara para prajurit lain melakukan patroli rutin. Semua tampak normal, kecuali hadirnya seorang pria asing yang berpakaian layaknya pedagang yang baru saja turun di pelabuhan barat Brickvia.
Dengan membawa barang dagangan di punggungnya, tidak ada satu pun yang menyadari bahwa pria ini adalah seorang pengintai dari Kerajaan Gillia yang diutus langsung oleh Raja Riviere.
Menyusup seorang diri ke tanah Brickvia, ia ditugaskan untuk mencari bukti keberadaan balon udara yang diduga digunakan sebagai senjata perang.
Dengan penyamarannya, ia berhasil memasuki gerbang barat Brickvia tanpa kecurigaan berarti. Langkah kakinya langsung mengarah ke markas divisi zeni, di mana kemungkinan besar balon udara disimpan oleh pihak militer Brickvia.
Namun, ia terkejut tak menemukan apa pun di sana dan bahkan di seluruh penjuru ibukota Brickvia.
Nihil.
Tak ada puing. Tak ada gambar. Tak ada proyek.
Brickvia telah mengubur rahasia itu dalam-dalam.
Pengintai itu menghabiskan satu hari penuh dengan tangan kosong.
Malam harinya di kamar penginapan, ia menulis laporan untuk dikirimkan ke istana Gillia.
“Yang Mulia Raja Riviere, balon udara mungkin tidak eksis di Brickvia dan tidak ada bukti visual yang dapat dikonfirmasi. Saya akan tetap bertahan di sini hingga mendapatkan bukti valid."
Ia meletakkan penanya dan berbisik pada dirinya sendiri.
"Brickvia ... sepertinya berhasil menghapus jejaknya dari langit."
Keesokan paginya, di aula utama istana Brickvia, Raja Hikusa duduk di singgasananya. Di kursi sebelahnya, Ratu Kurenai duduk dengan tenang dan anggun.
Di hadapan mereka berdua, Jenderal Masahiro, Letnan Jenderal Watari, Letnan Jenderal Kurosuke, dan Kolonel Koizumi berdiri berhadap-hadapan.
Di tengah-tengah para perwira tinggi itu, Ren berdiri berdampingan dengan Yukime menghadap Hikusa. Meski telah beristirahat seharian penuh kemarin, sisa kelelahan masih tampak di wajah mereka berdua.
Masahiro angkat bicara memulai pertemuan itu. “Kita berkumpul di sini untuk mendengar kronologi kejadian dan mengevaluasi dampak yang timbul dari penyalahgunaan diskresi dalam misi penyelamatan Yukime dari ibukota Kuchiwara.”
Raja Hikusa mengangguk singkat. “Silakan mulai!”
Yukime melangkah maju.
“Saya dibebaskan dari ruang tahanan Marase dan dijadikan tahanan kota di dekat pelabuhan Kuchiwara, dengan syarat saya setuju untuk menjalankan tugas sebagai tenaga medis tambahan.”
Yukime berhenti sejenak.
“Beberapa hari kemudian, Prajurit Dua Ren Karibata datang ke klinik tempat saya bertugas.”
Para perwira tinggi yang hadir tidak ada satu pun yang bersuara. Semua menyimak pemaparan Yukime dengan seksama.
“Ren kemudian menunjukkan surat dari ayah saya, Letnan Jenderal Harada Kurosuke. Saya mengenali tulisan tangan itu dan saya yakin itu asli. Oleh karena itu saya setuju untuk melarikan diri bersamanya," lanjut Yukime.
Masahiro menyela. “Mohon konfirmasi jalur pelarian.”
Yukime mengangguk dan kembali melanjutkan. “Kami berdua menuju dermaga. Namun tidak ada satu pun kapal yang diizinkan berangkat oleh otoritas Kuchiwara. Maka Ren membawa saya menaiki balon udara yang tidak dijaga dan dengan itu kami keluar dari wilayah Kuchiwara melalui jalur langit.”
Watari kemudian angkat bicara. “Dan selama pelarian ini, apakah ada musuh yang terbunuh?”
Ren akhirnya mengangkat suaranya.
“Tidak ada, Jenderal. Saya melumpuhkan, tetapi tidak membunuh perwira kargo kapal dagang Kuchiwara dan kemudian menyamar menggunakan identitasnya.”
Yukime membenarkan. "Itu benar. Ia tidak melukai siapa pun secara fatal. Setiap musuh yang dijatuhkan masih bernapas.”
Masahiro menunduk beberapa saat sebelum kembali mengangkat kepala untuk memberi tanggapan.