Silent Scarf

Affry Johan
Chapter #50

Bab 50 : Alat Perang

Di ruang militer istana Kuchiwara, Raja Arakumo berdiri di depan meja kayu panjang dengan peta terbentang di atasnya. Tatapannya tak bergeser dari atas peta itu.

“Brickvia ... telah bertindak melampaui batas!“ hardiknya. "Mengambil seorang tahanan kota ... yang merupakan urusan internal kita ... adalah sebuah tindakan ilegal!”

Di sekelilingnya, para perwira yang berkumpul tak ada yang berani bersuara. Berita pelarian Ren dan Yukime tak pelak telah meninggalkan luka sangat dalam bagi kehormatan Kuchiwara.

“Bersama dengan sekutu kita, Suragato, kita akan segera bergerak!" lanjutnya. "Serangan gabungan ini akan menyadarkan Brickvia bahwa Kuchiwara tidak akan pernah mentolerir pelanggaran batas kedaulatan!"

Para anggota penasihat, anggota dewan, dan perwira militer mengangguk setuju. Tidak ada satu pun yang rela semudah itu melepaskan seorang penyusup yang telah mengobrak-abrik rumah mereka.

Sementara amarah Arakumo memuncak, di halaman luar istana Brickvia, angin bertiup lembut dengan cahaya matahari senja menyinari hangat para penduduknya yang bersiap pulang ke rumah.

Ren duduk di sebuah bangku taman menatap air mancur di depannya dengan tatapan kosong ketika terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah samping.

“Ren … ” panggil suara itu.

Ren menoleh ke samping kanannya.

Yukime, berdiri menjalin jemari di depan tubuhnya, berhenti beberapa langkah dari Ren.

“Aku ... minta maaf,” ucapnya dengan menunduk.

Ren mendongak, menatap wajahnya.

“Maaf untuk apa?” tanyanya.

“Untuk … hukumanmu ... penangguhan kenaikan pangkatmu ... itu semua karena aku," jawabnya.

Ren menggelengkan kepalanya perlahan lalu kembali menatap air mancur di depannya.

“Itu bukan salahmu, Yukime. Itu adalah pilihanku sendiri untuk tidak mengambil nyawa ... bahkan ketika aku diperintahkan untuk melakukannya.”

Yukime menunduk semakin dalam, mencoba menahan air matanya untuk tidak jatuh. “Aku ... tidak ingin ada orang lain yang menderita karenaku.”

Ren bangkit dari duduknya dan tersenyum kecil.

“Kau tidak membuat siapa pun menderita. Yang terpenting sekarang, kau telah berkumpul kembali dengan keluargamu!”

"Ya, kau benar," jawab Yukime, tangannya mengusap air mata yang belum sempat terjatuh.

“Lalu ... bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Ren seraya melangkah mendekat.

Lihat selengkapnya