SILOMBRA

Tourtaleslights
Chapter #5

S.I.L.O.M.B.R.A.


Aku pertama kali melihat kata itu distempel di atas kertas yang sudah menguning, di sudut sebuah formulir yang seharusnya menentukan apakah seseorang berhak mendapatkan air minggu itu. Tintanya merah, sudah pudar di beberapa bagian, tapi huruf-hurufnya masih tegas, masih dingin, masih berbunyi seperti perintah: S.I.L.O.M.B.R.A. Aku tidak tahu berapa banyak formulir seperti itu yang sudah dicetak. Aku hanya tahu bahwa nama itu, begitu dicap di atas namamu, tidak bisa dihapus lagi setidaknya bukan oleh tanganmu sendiri.

Di dokumen resmi Kartel, Silombra bukanlah kata. Ia adalah akronim.

S.I.L.O.M.B.R.A.

Subjek Identitas Luar Otorisasi, Memiliki Bukti Registrasi Absen

Ini adalah bahasa Kartel. Bahasa yang dingin. Bahasa yang mengubah manusia menjadi kode. Bahasa yang mengatakan bahwa seseorang bisa ada secara biologis tapi tidak ada secara administratif.

Konsekuensi Menjadi S.I.L.O.M.B.R.A.

●     Tidak memiliki hak.

●     Tidak memiliki akses air.

●     Tidak memiliki akses pangan.

●     Tidak dapat menikah.

●     Tidak dapat memiliki properti.

●     Tidak dapat mengajukan keberatan.

●     Tidak dapat dimakamkan secara resmi.

Aku ingat seorang lelaki tua bernama Pak Warno, yang mati di gubuknya sendirian pada musim kemarau kedua setelah aku tiba. Tidak ada yang datang untuk mencatatnya. Tidak ada surat kematian, tidak ada nisan bertuliskan nama, hanya tanah yang digali seadanya oleh tetangganya di belakang gudang ikan, ditandai dengan sebongkah batu karang yang tidak akan bertahan lebih dari satu musim hujan. Kami menguburkannya diam-diam, di malam hari, karena bahkan mengubur seorang Silombra tanpa izin adalah pelanggaran. Aku berdiri di sana, menatap gundukan tanah itu, dan aku bertanya-tanya: apakah ia pernah punya nama sebelum menjadi delapan huruf ini?

Lihat selengkapnya