Tapi ada cara lain untuk membaca Silombra. Cara yang lebih dekat dengan pengalaman kami. Cara yang lebih dekat dengan rasa sakit dan harapan yang kami bawa setiap hari.
Sisa Ingatan yang Luput dari Orde, Meski Badannya masih Riil dan Ada.
Ini adalah wajah kedua Silombra. Wajah yang tidak dimengerti oleh Kartel.
Kami adalah sisa ingatan potongan-potongan dari masa lalu yang mereka coba hapus. Kami adalah pengetahuan yang luput dari penghapusan yang bertahan meskipun mereka membakar dokumen, meskipun mereka menutup sekolah, meskipun mereka membungkam para pencatat.
Kami luput dari orde dari sistem, dari prosedur, dari stempel. Tapi badan kami masih riil. Kami masih bernapas. Kami masih bisa mengajar. Kami masih bisa mengingat.
Maknanya:
Mereka boleh menghapus dokumenmu, tetapi mereka tidak pernah berhasil menghapus keberadaanmu.
Aku melihat ini terjadi setiap hari. Seorang ibu mengajar anaknya cara memasak dengan rempah-rempah liar. Seorang nelayan tua mengajar cucunya cara membaca awan. Seorang perajin anyaman mengajar tetangganya cara mengikat tali yang tidak berkarat.
Mereka tidak menulis apa pun. Mereka tidak membuat dokumen. Tapi pengetahuan itu bertahan.
Karena pengetahuan yang diwariskan dengan tangan tidak dengan kertas tidak bisa dihapus.
Aku belajar ini pertama kali dari Mbok Ratih, di gubuknya yang berbau asap dan daun kering. Ia tidak pernah menuliskan resepnya di kertas. Sebaliknya, ia meletakkan tanganku di atas tangannya sendiri, membiarkan jariku merasakan bagaimana ia menganyam ijuk dan arang menjadi lapisan-lapisan yang bisa membuat air keruh menjadi jernih.
"Kau tidak akan mengingat ini dengan mata," katanya. "Kau akan mengingat ini dengan tangan."
Ia benar. Bertahun-tahun kemudian, ketika mataku sudah lupa wajahnya, tanganku masih ingat tekstur ijuk itu kasar, lalu halus, lalu kasar lagi, seperti irama yang tidak pernah kutulis di mana pun tapi tidak pernah kulupakan.