Ini adalah wajah ketiga Silombra. Wajah yang paling tua. Wajah yang hampir hilang.
Silo = benih.
Umbra = bayangan.
Maka:
Silombra = Benih yang disembunyikan di dalam bayangan.
Makna ini mengubah segalanya.
Mbok Tari pernah menceritakan asal-usulnya kepadaku, suatu malam ketika angin Musim Diam mengaum di luar gubuk. Ia bilang, jauh sebelum Kartel datang, sebelum ada Tassex, sebelum ada stempel dan formulir, penduduk Pulau Sunyi punya kebiasaan menyimpan benih terbaik mereka bukan di lumbung, tapi di dalam tanah yang paling gelap di bawah akar pohon tua, di tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun yang tidak tahu ke mana harus mencari.
"Kenapa disembunyikan?" tanyaku waktu itu.
"Karena benih terbaik," katanya, "selalu jadi incaran yang pertama diambil, atau yang pertama dibakar, saat masa paceklik datang. Leluhur kami belajar: sesuatu yang paling berharga harus disimpan di tempat yang paling gelap, supaya bertahan sampai musim yang tepat."
Aku tidak mengerti waktu itu. Aku pikir ia hanya bercerita tentang bertani. Baru bertahun-tahun kemudian aku sadar ia sedang menjelaskan namaku sendiri.
Kartel menganggap kami manusia yang hilang. Mereka menganggap kami kegagalan sistem. Mereka menganggap kami sampah yang harus dibersihkan.
Tapi leluhur kami mereka yang hidup di Pulau Sunyi sebelum Kartel datang mereka menyebut kami dengan nama yang berbeda.
Mereka menyebut kami harapan.