Kau pasti sudah haus.
Bukan haus biasa bukan haus yang hilang setelah segelas air. Ini haus yang tinggal di tenggorokanmu seperti teman yang tidak pernah pergi. Ini haus yang membuatmu terbangun di malam hari, lidah menempel di langit-langit, tenggorokan terasa seperti kertas yang digosok kasar. Ini haus yang sudah kau kenal sejak kau menjadi Silombra.
Dulu, sebelum itu, ada sumur. Sumur di ujung lorong dekat dermaga tua yang papan-papannya sudah lapuk dimakan garam. Airnya dingin. Airnya gratis. Siapa pun bisa mengambil, siapa pun bisa minum.
Aku masih ingat rasa air itu sedikit asin, sedikit tanah, tapi jujur. Air yang tidak berbohong.
Sumur itu bukan sekadar sumber air. Ia adalah tempat orang-orang bertemu di pagi hari, menimba sambil bertukar kabar, menertawakan hal-hal kecil sebelum matahari terlalu terik untuk tertawa. Anak-anak berkejaran di sekelilingnya sementara ibu-ibu mengisi kendi. Itu adalah satu-satunya tempat di Pelabuhan Sunyi yang tidak pernah bertanya siapa namamu sebelum memberimu minum.
Lalu suatu hari Kartel datang.
Mereka memasang pagar besi. Mereka memasang gembok. Mereka memasang papan iklan besar dengan cat biru dan putih, terlalu cerah untuk lingkungan yang sudah lama kehilangan warna:
KARTEL AIR LINETH NAVETH
Air Bersih, Air Terjamin, Air untuk Semua
(yang Mampu Membayar)
Kalimat terakhir ditulis lebih kecil. Jauh lebih kecil. Hampir tidak terbaca dari jarak normal. Seolah mereka tahu apa yang mereka lakukan seolah mereka tahu bahwa kata-kata kecil adalah kata-kata yang paling penting.
Aku berdiri di depan papan itu suatu pagi, bersama dengan yang lain. Aku membaca kalimat besar, lalu kalimat kecil. Aku melihat air di balik pagar jernih, dingin, tepat di depanku, tapi tidak bisa kuraih.