SILOMBRA

Tourtaleslights
Chapter #12

Cara Membuat Penyaring dari Sampah

Ada hari-hari ketika kupon air habis sebelum tengah hari, dan sisa hari itu menjadi latihan menahan diri menjilat bibir yang pecah-pecah, menghindari kerja yang membuat keringat, duduk diam di tempat teduh sambil menghitung jam sampai gelap. Aku sudah menjalani beberapa hari seperti itu ketika akhirnya aku menyerah pada rasa maluku dan mencari pertolongan di luar pagar Kartel.

Aku belajar membuat penyaring dari seorang perempuan tua yang tinggal di ujung lorong.

Aku tidak pernah tahu namanya. Mungkin ia pernah punya nama tapi nama itu hilang, seperti banyak hal lainnya. Ia hanya "perempuan tua yang selalu menganyam tikar di depan gubuknya."

Suatu hari, ketika hausku sudah terlalu berat untuk ditahan, aku duduk di sampingnya.

"Aku haus," kataku.

Ia tidak berhenti menganyam. Ia hanya berkata, "Kau lihat air di sana?"

Ia menunjuk ke comberan di belakang gubuk air keruh, kecokelatan, dengan serpihan-serpihan kecil melayang di dalamnya.

"Aku tidak bisa minum itu," kataku. "Aku akan sakit."

Ia tersenyum. "Kau tidak minum itu. Kau membersihkannya dulu."

Ia meletakkan anyamannya. Ia berjalan ke tumpukan sampah di sudut. Ia mengumpulkan ember plastik retak, batu bata pecah, abu arang, dan segenggam pasir dari tepi dermaga.

Ia menyusun semuanya di hadapanku, di tanah yang kering dan berdebu.

"Lihat," katanya.

Kau butuh:

●     Ember plastik retak masih bisa menampung air.

●     Batu bata pecah cukup beberapa potong, seukuran ibu jari.

Lihat selengkapnya