Suatu hari, mereka memberimu ikan busuk.
Bukan ikan biasa ini puluhan ton. Bertumpuk di gudang pabean seperti gunung kematian. Bau amonia menyengat sampai matamu perih, sampai tenggorokanmu tercekat, sampai kau hampir muntah di tempat. Lalat beterbangan dalam awan hitam yang bergerak-gerak. Dagingnya sudah membiru, sudah mengeluarkan lendir, sudah dimakan dari ujung kepala hingga ekor.
Mereka memberimu ini untuk mempermalukanmu. Mereka ingin kau tahu bahwa kau hanya pantas menerima sampah. Mereka ingin kau menunduk, menutup hidung, dan pergi seperti yang selalu kau lakukan.
Begitulah yang biasanya terjadi. Orang-orang datang, menutup hidung dengan kain, mengambil apa yang masih terlihat bisa dimakan sambil menahan mual, lalu pergi secepat mungkin, membawa rasa malu yang lebih berat daripada ikan yang mereka bawa pulang. Beberapa bahkan tidak datang sama sekali lebih memilih lapar daripada menanggung bau itu menempel di kulit mereka sepanjang hari.
Tapi kau lihat sesuatu yang tidak mereka lihat.
Di balik bau, di balik lalat, di balik daging yang membusuk ada sesuatu yang masih bisa diselamatkan.
● 30-40% benar-benar busuk daging hancur, mata mengering, lendir menghitam. Itu kau bakar.
● 60-70% masih layak hanya permukaannya yang membiru, dagingnya masih merah muda. Itu kau olah.
Kau harus melihat warna insangnya merah segar berarti masih baik, pucat kelabu berarti sudah mati. Kau harus mencium baunya bau amonia terlalu kuat berarti tidak bisa diselamatkan. Kau harus meraba dagingnya masih kenyal berarti masih bisa diolah.
Aku belajar ini dari para nelayan tua. Mereka yang sudah puluhan tahun di laut, yang tangannya sudah hafal setiap sisik, setiap insang, setiap bagian dari ikan yang bisa dimakan. Mereka yang dipecat Kartel karena sudah tua, karena tidak lagi berguna, karena mereka tahu terlalu banyak.
"Mereka memberi kita sampah," kata salah satu dari mereka Pak Giman, namanya, jika kau masih ingat nama. "Tapi sampah bisa menjadi harta."
Ia mengambil seekor ikan dari tumpukan. Ia membelahnya dengan pisau. Di dalamnya, daging masih merah muda. Masih segar. Masih bisa memberi kehidupan.
"Hanya bagian luarnya yang busuk," katanya. "Tiga puluh persen, mungkin empat puluh. Sisanya masih layak."