Aku berjalan ke sudut gudang, di mana aku menyimpan beberapa rumpun rempah yang kukumpulkan dari belakang gubuk Sari tempat Denu sekarang berlari-lari riang di antara tanaman, jauh dari sumur yang dulu nyaris merenggutnya dan dari kebun Mbok Ratih. Kunyit kering yang kujemur di bawah seng. Jahe yang sudah kupotong tipis dan kujemur. Lada hitam yang kutemukan di pasar keliling satu-satunya rempah yang tidak dikuasai Kartel karena terlalu kecil untuk dimonopoli.
Pak Giman menatapku dengan alis terangkat saat aku mulai menggiling kunyit dengan batu pipih. Grss\... grss\... grss\... bubuk kuning halus mulai menumpuk di atas batu. Aroma kunyit yang tajam dan hangat menyebar di udara, memotong bau amonia yang tersisa.
"Apa itu?" tanyanya.
"Kunyit," jawabku. "Dan ini jahe kering. Dan ini lada hitam."
"Untuk apa?"
Aku mencampur bubuk kunyit dengan jahe kering yang sudah kutumbuk kasar, dan sedikit lada hitam yang kugiling halus. Aromanya tajam, hangat, sedikit pedas mulai memenuhi gudang. Para nelayan mengendus, dan untuk pertama kalinya, ekspresi mereka berubah. Bukan lagi ekspresi kelelahan atau keputusasaan. Ini ekspresi rasa ingin tahu.