SILOMBRA

Tourtaleslights
Chapter #22

Memilih Daun yang Sempurna

Kau mungkin berpikir anyaman hanya kerajinan. Kau salah.

Anyaman adalah bahasa. Anyaman adalah ingatan. Anyaman adalah cara untuk mengatakan: "Aku ada. Aku pernah ada. Dan aku tidak akan dihapus."

Aku belajar ini dari Mbok Tari. Jika kau masih ingat nama. Ia perempuan dengan jari-jari yang lebih lincah dari siapa pun yang pernah aku lihat. Ia duduk di lantai gudang, membuka gulungan daun pisang yang ia bawa, dan mulai bekerja tanpa melihat, tanpa ragu, tanpa berhenti.

Aku menemukannya begitu saja, suatu sore ketika aku berjalan tanpa tujuan di antara gudang-gudang kosong, mencoba mencerna semua yang sudah kupelajari tentang air dan garam dan ikan. Ia tidak menyapaku. Ia hanya menggeser sedikit, memberi ruang di sampingnya, seolah sudah menungguku sejak lama.

"Daun pisang ini," katanya, "lebih jujur dari plastik. Ia bernapas. Ia menjaga makanan tetap segar. Plastik hanya menjual mati."

Aku duduk di sampingnya, mengamati tangannya. Gerakannya begitu cepat, begitu halus, seperti air yang mengalir. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada energi yang terbuang. Setiap lipatan, setiap ikatan, setiap simpul semua memiliki tujuan.

"Bagaimana kau bisa melakukannya tanpa melihat?" tanyaku.

Ia tersenyum. "Tangan ini sudah hafal. Sejak aku kecil, aku melihat ibuku menganyam. Ibunya sebelum dia. Kami tidak butuh buku. Tangan ini sudah hafal."

Daun pisang harus dipilih dengan hati-hati:

●     Tidak terlalu tua akan rapuh saat dilipat.

●     Tidak terlalu muda akan layu sebelum ikan selesai dibungkus.

●     Hijau tua, segar, urat-urat jelas tapi tidak terlalu menonjol.

Lihat selengkapnya