Ketika seorang Silombra dianggap siap untuk pergi, Dewan Bayangan tidak mengucapkan selamat tinggal.
Mereka tidak berpelukan. Mereka tidak menangis. Mereka tidak mengatakan kata-kata perpisahan.
Mereka hanya hadir.
Mereka berkumpul di tempat yang tidak terlihat dari peta dermaga yang tidak pernah dicatat, yang hanya diketahui oleh mereka yang pernah ke sana. Mereka berdiri dalam diam. Mereka menatap orang yang akan pergi.
Ini adalah Ritual Pelepasan.
Ia bukanlah ritual yang meriah. Ia bukanlah ritual yang sedih. Ia adalah ritual yang diam. Karena keheningan adalah satu-satunya bahasa yang tidak bisa didengar oleh Kartel. Karena keheningan adalah satu-satunya cara untuk mengatakan: "Kami tidak akan mengingatmu. Karena jika kami mengingatmu, mereka bisa melacakmu. Pergilah. Dan jangan kembali."
Malam itu, Morekey tidak bisa tidur.
Ia berjalan ke dermaga dermaga biasa, dermaga yang terlihat di peta. Ia tidak tahu bahwa di dermaga lain dermaga yang tidak terlihat tujuh sosok sedang menunggunya.
Mbok Ratih. Pak Giman. Mbok Tari. Pak Jono. Mas Guntur. Ki Darma. Nyi Kembang.
Mereka berdiri dalam diam. Mereka menatap Morekey yang berjalan di dermaga biasa, tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.
Pak Giman mengingat tangan Morekey yang dulu canggung menggosok garam, kini pasti sudah kuat dan yakin. Mbok Tari mengingat anyaman pertama Morekey yang jelek dan longgar, kini pasti sudah rapi tanpa perlu dipikirkan. Setiap dari mereka menyimpan versi Morekey yang berbeda versi yang masih belajar, masih gagal, masih mencoba dan setiap dari mereka tahu versi itu tidak akan pernah kembali, karena orang yang berjalan di dermaga itu sekarang adalah seseorang yang baru.
"Ia tidak tahu," bisik Mbok Ratih.
"Ia tidak perlu tahu," jawab Ki Darma. "Yang penting ia pergi."
"Ia akan kembali?" tanya Nyi Kembang.