Buku ini adalah kisahku. Tapi aku bukan satu-satunya yang punya kisah untuk diceritakan.
Di sepanjang halaman-halaman sebelumnya, kau membaca tentang Sari, Kertos, Pak Giman, dan Mas Guntur tapi selalu dari mataku, selalu disaring melalui apa yang aku lihat dan aku ingat. Sebelum naskah ini benar-benar selesai, aku memutuskan untuk duduk bersama mereka, satu per satu, dan meminta mereka bercerita dengan suara mereka sendiri.
"Untuk apa?" tanya salah satu dari mereka. "Ceritaku tidak penting."
Aku tidak setuju. Dan aku pikir, setelah membaca yang berikut ini, kau juga tidak akan setuju.
Namaku Sari. Kau mungkin sudah membaca sedikit tentangku tapi yang kau baca kemungkinan besar adalah versi diriku yang menangis di lantai tanah, menunggu anakku hidup atau mati.
Aku tidak akan menceritakan malam itu lagi. Morekey sudah menuliskannya, dan aku tidak sanggup menuliskannya dengan caraku sendiri terlalu dekat, terlalu segar, meski sudah bertahun-tahun berlalu. Yang ingin kuceritakan adalah apa yang terjadi sesudahnya.
Setelah Denu sembuh, aku tidak bisa lagi hidup seperti sebelumnya menunggu, berharap, bergantung pada belas kasihan siapa pun yang kebetulan lewat dengan pengetahuan yang kubutuhkan. Aku mulai bertanya. Aku mulai mencari. Ibuku dulu mengajariku nama beberapa tanaman, sebelum aku menikah dan pindah, sebelum aku lupa hampir semuanya karena terlalu sibuk bertahan hidup. Aku menggali ingatan itu kembali, satu daun, satu akar, satu waktu.
Jariku kaku sekarang bekas luka bakar dari malam-malam aku bereksperimen sendiri di atas tungku kecil, mencoba meracik sesuatu yang bisa menurunkan demam Denu sebelum aku tahu caranya yang benar. Aku tidak menyesalinya. Setiap bekas luka itu adalah bukti bahwa aku tidak diam saja.
Aku ingat hari ketika Morekey datang ke pasar, membawa bumbu yang dibuatnya sendiri, matanya penuh harap dan takut sekaligus persis seperti matanya dulu, malam itu, di gubukku. Aku tidak ragu mempercayainya kali ini. Aku sudah pernah melihat apa yang bisa dilakukan tangan itu.
Aku tidak menulis buku. Aku tidak mencatat sejarah. Yang aku lakukan hanya menanam, memanen, mengajar satu tangan ke tangan lain, seperti yang coba kupelajari sendiri di malam-malam paling putus asa dalam hidupku. Mungkin itu tidak akan pernah tercatat di lampiran mana pun. Tapi aku tidak keberatan. Beberapa hal memang tidak dibuat untuk dicatat. Mereka dibuat untuk tumbuh seperti Denu, yang sekarang berlari-lari di depan gubuk kami, sehat, berisik, hidup.
Dua puluh tahun aku duduk di balik meja yang sama, mencatat angka yang sama, dengan pena yang sama, sampai tanganku hafal gerakannya tanpa perlu kupikirkan lagi.
Aku tidak pernah bertanya apa arti angka-angka itu. Itulah yang mereka ajarkan kepada kami sejak hari pertama: jangan bertanya, hanya catat. Aku pikir aku sedang menjadi orang yang berguna. Aku pikir pekerjaan administratif adalah pekerjaan yang bersih jauh dari lumpur pelabuhan, jauh dari bau ikan busuk, jauh dari apa pun yang bisa mengotori tanganku.
Aku salah.
Suatu malam, aku menghitung ulang angka-angka dari bulan itu bukan karena diminta, tapi karena tidak bisa tidur dan aku menyadari sesuatu yang seharusnya sudah kulihat bertahun-tahun lalu: setiap kali angka kematian naik, angka keuntungan Kartel juga naik. Bukan kebetulan. Pola yang konsisten, rapi, seperti semua yang mereka ajarkan kepadaku untuk kubuat rapi.
Aku tidak bisa lagi duduk di meja itu setelah malam itu. Tapi aku juga tidak bisa membakar dua puluh tahun catatan begitu saja terlalu banyak nama di dalamnya, terlalu banyak orang yang layak diingat, meski sistem sengaja membuat mereka hanya jadi angka. Jadi aku mencurinya. Map demi map, malam demi malam, sampai semuanya ada di tanganku, bukan di tangan mereka.
Aku bukan pahlawan. Aku hanya orang yang terlambat menyadari bahwa diam bukanlah pilihan yang netral.
Orang-orang bertanya kenapa aku masih melaut, padahal umurku sudah tidak muda dan lautlah yang mengambil begitu banyak dariku.