“Nabila!”
Langkahku terhenti tepat di depan lift. Suara itu memantul di dinding mal, tipis tapi cukup tajam untuk membuat tengkukku menegang. Orang-orang tetap berjalan seperti biasa. Membawa kantong belanja, tertawa, menatap layar ponsel, seolah tidak ada yang baru saja menyebut nama seseorang yang seharusnya sudah lama hilang dari permukaan.
“Nabila!”
Sekarang suara itu lebih dekat lagi. Lalu sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku sebelum pintu lift terbuka. Refleks. Kuat. Seolah dia takut aku benar-benar menghilang.
Aku menoleh. Seorang lelaki berdiri di depanku. Napasnya sedikit memburu, matanya menatap wajahku dengan cara yang tidak wajar, terlalu yakin untuk sebuah kesalahan.
“Nabila?” ulangnya.
Aku menarik tanganku. “Kamu salah orang.”
Dia tidak langsung menjawab. Hanya menatap, seperti sedang mencocokkan sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
“Tujuh tahun,” katanya pelan. “Nggak cukup buat saya lupa wajah seseorang.”
Darahku seperti ditarik mundur ke satu titik.
Lift terbuka. Aku masuk tanpa menunggu, membiarkan orang-orang di belakangku mendorong tubuh lelaki itu menjauh. Pintu menutup di antara kami. Tetapi tatapannya masih tertinggal, menempel di kepala hingga membuat napasku tersengal.
Di cermin lift, wajahku tampak pucat. Untuk beberapa detik, aku tidak yakin itu wajahku. Sampai pintu lift akhirnya membuka di lantai dasar. Aku melompat keluar, berlari seolah ada yang mengejar.
Di trotoar, aku tertegun. Pikiranku buram. Aku seperti orang yang tiba-tiba kehilangan arah. Getaran ponselku membuatku tersadar.
Wildan.
“Aku sudah di depan,” katanya tanpa basa-basi. “Kamu di mana?”
“Aku sudah di jalan.”
“Di jalan?” nada suaranya naik. “Pulang sama siapa?”
Aku tidak menjawab.