Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #2

Lelaki Itu

Kilatan cahaya itu bukan berasal dari petir yang bersahutan di tengah hujan. Bukan juga dari lampu sorot mobil yang terjebak macet di tengah jalan. Tetapi dari sesuatu dibalik bilik telepon di seberang sana. Aku bergegas menggulung standing banner dan menepi. Kulepaskan topi koki sambil mengibaskan sisa air hujan dari rambutku. Pandanganku langsung terfokus pada sosok bertopi pancong yang baru saja keluar dari bilik telepon sambil memeluk sebuah kamera SLR di depan dadanya. Dia menatap lurus ke arahku. Sama sekali tidak merasa bersalah karena telah tertangkap basah mengambil fotoku diam-diam.

Carrot cake kamu, Nay!” tepukan pelan Elen membuatku tersentak.

“Biar aku saja yang membereskan banner-nya!” Dia langsung mengambil gulungan standing banner dari tanganku.

Aku mengangguk sambil berbalik masuk ke dalam Vinella. Kulihat sosok lelaki tadi membuka dan mengibaskan topinya yang terkena air hujan. Aku mengernyit, wajah lelaki itu terasa tidak asing. Sedikit rasa penasaran membuatku kembali berbalik dan berjalan keluar untuk memastikan, tetapi dia sudah menghilang dari sana.

Di depan loyang yang baru kukeluarkan dari oven, aku kembali tertegun. Berusaha mengingat-ingat. Rasanya hampir tidak mungkin lelaki tadi hanya sekedar iseng memotretku lalu menghilang begitu saja seperti hantu yang tidak tahu malu. Kupejamkan mataku perlahan, mencoba menghadirkan kembali wajahnya yang sedikit tersamarkan oleh topi pancong yang dia kenakan.

“Astaga!” Aku terlonjak sendiri. Lelaki itu adalah sosok mirip Reuben Elishama yang kutemui di Mal Kelapa Gading kemarin siang, saat aku baru selesai menghadiri pameran kuliner disana.

“Dia benar-benar berpikir kalau saya ini Nabila!” gumamku panik. Kulepas topi koki di kepalaku sambil berjalan mondar-mandiri. Apa yang harus kulakukan?

“Sudah selesai, Nay?” suara teguran dari arah pintu dapur membuatku terlonjak. Rupanya Wildan, dia menghampiriku dengan wajah lelah khasnya. Kulirik jam besar yang menggantung di dinding, baru jam lima lewat lima belas. Wildan menjemputku empat puluh lima menit lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena ini hari kamis menjelang long weekend jadi dia bisa pulang lebih awal dan tiba di Vinella lebih cepat.

“Sebenarnya pekerjaanku sudah selesai, tetapi jam kerjaku belum!”

Kuambil parutan keju untuk ditaburi di atas carrot cake. Ini cake terakhir yang kami buat hari ini. Best seller, paling banyak diminati pelanggan Vinella.   

“Itu Muffin baru lagi?” Wildan memperhatikan carrot cake di atas nampan.

Carrot cake yang biasa, cuma topping-nya aja yang dipercantik!” tunjukku ke permen-permen hias berbentuk hati di atas cup kue.

“Supaya sesuai dengan tema bulan ini, valentine’s day...”

Lihat selengkapnya