Stasiun Depok pukul tujuh pagi selalu tampak seperti tubuh yang dipaksa bergerak sebelum sempat benar-benar hidup dari rasa lelap.
Orang-orang berdesakan di peron dengan wajah setengah jadi. Rambut yang masih lembap, lipstik yang dipoles terburu-buru, mata yang belum selesai berunding dengan kantuk. Di pinggiran kota ini, tubuh tidak diberi banyak pilihan selain patuh pada waktu.
Aku berdiri bersandar pada tiang peron, menarik masker lebih rapat ke hidung. Flu sejak semalam membuat sendi-sendiku terasa berat, seolah ada beban tambahan yang digantungkan diam-diam. Di sekelilingku, langkah-langkah tergesa memantul di lantai, beradu dengan pengumuman kereta yang terdengar seperti perintah.
Kereta datang dengan suara logam yang kasar berdecit.
Arus manusia langsung bergerak serempak, seperti sesuatu yang sudah terlalu sering dilatih untuk tahu kapan harus berlari.
Aku ikut maju. Tepat sebelum kakiku menginjak lantai gerbong, kilatan cahaya itu kembali menyambar dari ujung peron.
Klik.
Aku menoleh. Lelaki bercelana cargo itu berdiri di sana, kameranya masih terangkat ke arahku. Topi pancongnya sedikit miring, wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang tertangkap mengabadikan orang asing tanpa ijin.
Dia lagi.
Sudah kali kesekian dia muncul di tempat-tempat yang terlalu kebetulan untuk sebuah ketidaksengajaan.
Di Mal.
Di stasiun.
Di depan Vinella.
Sepertinya dia lebih tertarik pada bayanganku daripada hidupku yang sebenarnya.
“Maaf, Mbak!”
Tubuhku terdorong dari belakang oleh penumpang lain yang tak punya waktu untuk ikut peduli pada rasa tidak nyamanku. Aku terpaksa masuk ke dalam gerbong bersama arus, membiarkan pintu menutup di antara aku dan lelaki itu.