Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #4

Senyum Nabila

Aku masih duduk di lantai samping kursi roda Nabila ketika suara bel pagar berbunyi.

Sekali.

Lalu dua kali lagi, pendek dan ragu-ragu.

Malam di gang kami jarang membawa tamu. Orang biasanya cukup berteriak dari depan pagar kalau ada perlu. Bel yang dibunyikan pelan seperti itu hanya dipakai orang yang tidak yakin dirinya pantas datang.

Aku menoleh ke Ibu. Beliau ikut mengangkat kepala dari meja makan, wajahnya memancarkan kebingungan yang sama.

“Siapa malam-malam?” gumamnya.

Aku bangkit, masih dengan berat di kepala. Flu-ku belum sembuh sepenuhnya.

Gang di luar rumah lembap oleh sisa hujan sore. Lampu teras memantulkan bayangan pagar ke semen yang retak. Ketika kubuka pintu, seorang lelaki berdiri di balik jeruji besi.

Celana cargo.

Topi hitam.

Dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya dari jarak yang cukup dekat untuk menangkap sesuatu yang tidak sempat kubaca di stasiun ataupun tadi siang di dalam Vinella. Sebuah gugup yang disembunyikan.

“Aku tahu ini nggak sopan,” katanya pelan, “tapi aku perlu ketemu Nabila.”

Tubuhku langsung menegang. Nama itu keluar terlalu mudah dari mulut orang asing yang tidak pernah menyebutkan namanya.

“Kamu siapa?”

Dia menarik napas sebentar, seperti seseorang yang sedang memaksa dirinya menembus tujuh tahun yang diam.

“Gavin.”

Nama itu belum berarti apa-apa bagiku.

Belum.

Sampai dia akhirnya menambahkan. “Dulu, aku pernah dekat sama Nabila.”

Aku tidak langsung membuka pintu besi. Di rumah ini, masa lalu selalu datang dengan harga yang terlalu mahal untuk dipercaya begitu saja.

“Aku nggak ada maksud apa-apa. Aku juga nggak datang untuk bikin masalah,” lanjutnya. “Aku cuma baru tahu dia ada di sini,”

Lihat selengkapnya