Pagi setelah Gavin datang, rumah terasa menyimpan jenis sunyi yang berbeda.
Bukan sunyi yang biasa hidup bersama kami selama bertahun-tahun, sunyi yang lahir dari obat, dari langkah Ibu yang sengaja dipelankan, dari suara kursi roda yang sesekali bergesek di lantai.
Ini sunyi yang baru dibangunkan oleh masa lalu.
Aku menatap Nabila dari meja makan.
Dia duduk di kursi rodanya, dekat jendela. Cahaya pagi menempel di wajahnya yang pucat. Tidak ada lagi kata yang keluar setelah semalam. Tatapan matanya pun terasa kembali kosong, tidak benar-benar hidup seperti ketika dia menatap Gavin. Tetapi tubuhnya tidak sepenuhnya kembali beku. Ada jeda-jeda kecil saat matanya seolah mengejar sesuatu di udara. Fragmen yang mungkin terlalu rapuh untuk berubah menjadi bahasa.
Di meja, ponselku bergetar.
Pesan dari Gavin.
Aku tunggu di Vinella sebelum toko buka. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.
Aku segera beranjak.
Aku harus datang lebih pagi dari biasanya.
Kota Tua di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa masih setengah mengantuk. Trotoar belum ramai wisatawan. Rolling door toko-toko sekitar baru mulai dinaikkan, bunyinya seperti besi yang dipaksa membuka rahasia semalaman.
Di depan Vinella, Gavin sudah berdiri tanpa topi. Kamera tergantung di lehernya, tetapi kali ini tidak terasa seperti alat pengintaian. Lebih seperti benda yang terlalu lama menyimpan rasa bersalah.
“Aku nggak mau ngomong ini di rumah,” katanya setelah kami duduk di meja pojok, dekat jendela. “Terlalu banyak telinga.”
Aku tahu yang dia maksud bukan hanya Ibu. Ada tetangga. Gang sempit. Dan Dinding rumah yang terlalu tipis untuk menyimpan sejarah perempuan.
Gavin mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tasnya.
Sudutnya aus. Ada bekas lipatan berkali-kali dibuka lalu ditutup lagi.
“Aku simpan ini dari hari wisuda.”
Dia menyerahkannya padaku.
Tanganku terasa dingin saat menarik keluar isinya.
Foto ukuran 4R.