Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #6

Rumah Sakit

Pagi itu tubuh Nabila kembali memberontak. Awalnya hanya sendok bubur yang jatuh dari tangannya. Lalu gelas obat menyusul, pecah di lantai dapur menjadi serpihan kecil yang memantulkan cahaya matahari seperti sisa sesuatu yang tidak pernah benar-benar utuh. Ibu refleks memunguti pecahan itu sambil menahan napas, seolah suara kaca yang terlalu nyaring bisa memancing sesuatu yang lebih buruk.

Aku baru selesai mandi dan berganti pakaian ketika mendengar kursi roda bergeser kasar dari ruang tengah.

“Nay!” suara Ibu pecah.

Aku berlari.

Nabila duduk dengan tubuh tegang, kedua tangan mencengkeram sandaran kursi roda sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya cepat. Matanya terbuka lebar, tetapi tidak benar-benar melihat kami.

Bukan kosong.

Lebih buruk.

Dia seperti sedang melihat sesuatu yang hanya hidup di dalam kepalanya sendiri.

“Na…” aku berjongkok di depannya. “Lihat aku!”

Bibirnya bergerak kecil.

“Jangan… dikunci…”

Kalimat itu membuat tengkukku dingin. Pintu dikunci. Ruang bimbingan.

Gosip kampus. Foto wisuda. Semua yang kemarin hanya terasa seperti potongan puzzle  mulai bergerak menuju bentuk yang lebih menakutkan.

Nabila mendadak meronta. Tangannya menepis mangkuk bubur lain di meja. Kursi roda hampir terguling kalau aku tidak cepat menahannya. Ibu mulai menangis kecil di belakangku, panik seperti biasa, panik yang lahir dari bertahun-tahun hidup bersama luka tanpa pernah tahu cara menamainya.

Aku langsung meraih ponsel.

Nama pertama yang muncul di kepalaku bukan Wildan. Tetapi Gavin.

Dia datang kurang dari dua puluh menit kemudian, masih dengan kemeja yang belum disetrika sempurna dan wajah yang tampak seperti baru meninggalkan tidur yang dipaksa terjaga.

Begitu melihat Nabila, matanya langsung berubah. Bukan kaget. Lebih seperti rasa bersalah yang mendapat bentuk baru.

“Kita bawa ke rumah sakit,” katanya pendek.

Ibu tampak ragu, persis seperti setiap kali kata rumah sakit muncul di rumah ini.

Sejak tujuh tahun lalu, tempat itu lebih sering terasa seperti ruang arsip luka daripada tempat penyembuhan.

“Gavin punya teman dokter di sana, Bu.” kataku cepat, setengah menenangkan Ibu, setengah meyakinkan diriku sendiri. Kalau ada satu orang yang masih mungkin dibaca tubuh Nabila sebagai tempat aman, mungkin hanya lelaki itu. Gavin. Sosok yang sepertinya pernah mendapat tempat istimewa di hatinya.

 

Lihat selengkapnya