Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #7

Magnet dan Siluet

Sepulang dari rumah sakit, rumah kami terasa berbeda tanpa benar-benar berubah. Dindingnya masih sama, cat krem yang mulai kusam di dekat saklar, jam dinding yang selalu lima menit lebih cepat, dan meja makan kecil tempat obat-obatan Nabila berbaris lebih rapi daripada piring-piring makan kami. Tetapi sejak pagi tadi, aku merasa ada sesuatu yang tak lagi diam. Mungkin karena sekarang kami punya kata untuk menyebutnya.

Trigger. Trauma recall. Arsip lama.

Istilah-istilah itu tidak membuat luka menjadi lebih ringan. Hanya membuat kami sadar bahwa selama ini rumah kami dibangun dari terlalu banyak hal yang sengaja tidak diberi nama.

Nabila tertidur lebih cepat malam itu. Efek obat dari dokter Citra membuat napasnya lebih tenang, meski sesekali dahinya tetap berkerut seperti seseorang yang sedang berjalan di lorong gelap dalam mimpi.

Aku duduk di lantai kamarnya, memandangi wajah Nabila yang separuh tertutup cahaya lampu tidur.

Di rumah sakit tadi, untuk pertama kalinya aku melihat tubuhnya mengingat sesuatu lebih dulu daripada pikirannya. Tubuh memang sering lebih jujur daripada bahasa. Dia menyimpan pintu, suara kunci, bau ruangan, bahkan rasa takut yang tidak pernah berhasil diucapkan. Dari ruang tengah terdengar suara Ibu dan Gavin berbicara pelan.

Aku keluar.

Gavin masih duduk di kursi plastik dekat meja makan, secangkir teh yang sudah dingin di depannya. Kemejanya sedikit kusut, tetapi dia tidak tampak tergesa untuk pulang.

Sejak masuk lagi ke hidup kami, dia seperti magnet yang diam-diam menarik semua fragmen masa lalu ke satu titik.

“Dokter Citra bilang arsip lama itu penting,” katanya pelan saat aku duduk di seberangnya.

Aku mengangguk. “Ibu pasti nggak suka kalau kita bongkar lagi.”

Gavin menatap rak obat di pojok ruangan.

Lihat selengkapnya